Info Beasiswa S1 S2 S3

Beasiswa Scholarships Dalam Negeri Luar Negri

UPAYA CPI MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT SAKAI

UPAYA CPI MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT SAKAI

Tanggal 5 September 2004 menjadi hari terpenting bagi Syahril S.E., Ak. Hari itu, ia resmi menjadi orang Sakai pertama yang dilantik sebagai anggota DPRD Riau. “Jangan katakan tak bisa sebelum mencoba,” ujar Syahril berkali-kali. Itulah agaknya motto hidup yang mendorongnya untuk terus maju, meskipun beragam hambatan menghadang.

Syahril adalah penerima beasiswa dari PT Caltex Pacific Indonesia (CPI) sejak ia masih duduk di kelas 3 SD tahun 1989, sampai memasuki jenjang S2 yang masih berlangsung hingga kini.

Akhir tahun 1980-an, CPI memberikan beasiswa kepada seluruh anak Sakai dari SD hingga SMU. Dari ratusan penerima beasiswa CPI, Syahril merupakan salah satu dari mereka yang memiliki motivasi belajar dan keinginan maju tinggi. Karena itulah, ketika ia menyatakan niat melanjutkan kuliah, CPI mendukungnya dengan melanjutkan pemberian beasiswa.

Dukungan CPI ternyata tidak sia-sia. Selain berhasil menyelesaikan kuliahnya, Syahril juga aktif mendorong pemuda-pemuda Sakai untuk mengikuti jejaknya melalui wadah HPPMSR (Himpunan Pemuda Pelajar & Mahasiswa Sakai Riau) yang dibentuknya tahun 2000. HPPMSR bertujuan menampung dan menyalurkan aspirasi segenap generasi muda Sakai untuk menimba imu dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kini, HPPMSR telah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan di Riau, utamanya CPI, untuk menyalurkan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa Sakai.

Suku Sakai adalah komunitas asli/pedalaman yang hidup di daratan Riau. Mereka selama ini sering dicirikan sebagai kelompok terasing yang hidup berpindah-pindah di hutan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, alam asri tempat mereka berlindung mulai punah. Kawasan yang tadinya hutan, berkembang menjadi daerah industri perminyakan, usaha kehutanan, perkebunan karet dan kelapa sawit, dan sentra ekonomi. Komposisi masyarakatnya pun menjadi lebih heterogen dengan pendatang baru dan pencari kerja dari berbagai kelompok masyarakat yang ada di Indonesia (Jawa, Minang, Batak, dsb). Akibatnya, masyarakat Sakai pun mulai kehilangan sumber penghidupan, sementara usaha atau kerja di bidang lain belum biasa mereka jalani.

Kondisi masyarakat Sakai itu disadari oleh CPI. Karena itulah, pada akhir tahun 1980-an, CPI bekerja sama dengan PIID (Persatuan Ibu-Ibu Duri) memberikan bantuan CD pendidikan bagi anak-anak Sakai dari tingkat SD hingga SMU. PIID yang beranggotakan para isteri karyawan CPI melakukan pendataan pelajar-pelajar Sakai yang memerlukan bantuan. Syahril yang sejak Oktober 2002 berhak menyandang gelar sarjana ekonomi, merupakan salah satu penerima bantuan CD CPI ini.

Atas anjuran CPI pula, pada tahun 2002 Syahril mengajak pemuda-pemuda Sakai lain untuk melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Awalnya hanya 3 orang yang mengikuti ajakan ini. Setahun kemudian jumlah mereka meningkat menjadi 20 orang, dan pada tahun 2004, 30 orang pemuda Sakai tercatat sebagai mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Riau.

Kini di tingkat pendidikan dasar dan menengah, terdapat sekitar 250 anak suku Sakai di Duri (tempat CPI mengoperasikan teknologi injeksi uap terbesar di dunia dan memproduksi sekitar 200.000 barel minyak per hari), dan 204 orang di Minas (salah satu ladang minyak CPI yang telah memproduksi lebih dari 4 juta barel minyak) yang menerima bantuan CD pendidikan dari CPI. Di samping biaya pendidikan, CPI juga memberikan bantuan biaya hidup selama mereka menuntut ilmu.

Kiprah CPI membantu pemberdayaan Suku Sakai sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1970-an. Waktu itu, CPI membangun SD (dulu SR) di daerah Sungai Rangau di tengah pemukiman masyarakat Sakai. Bangunan-bangunan SD lain kemudian menyusul dibangun, yaitu: SD di desa Pauh-Libo, Pematang Pudu, Jiat, Rangau, Petani dan sebuah gedung SMP di desa Pematang Pudu serta beberapa Madrasah. Sebagian besar SD tersebut juga dilengkapi dengan buku-buku penunjang. Untuk guru-guru dan para relawan disediakan pula semacam insentif ala kadarnya agar mereka bersemangat dalam memajukan mutu pendidikan anak bangsa.

Bagi remaja dan pemuda Sakai yang tak sempat atau tak sanggup melanjutkan pendidikan, diberikan pelatihan kerja praktis agar mereka mempunyai keterampilan untuk memasuki dunia kerja. Pelatihan ini berkaitan erat dengan dunia usaha, khususnya di CPI dan perusahaan-perusahaan mitra kerjanya, seperti pelatihan roustabout (pekerjaan pemeliharaan peralatan perminyakan), pengelasan,dan pelatihan keterampilan umum seperti perbengkelan sepeda motor, kursus menjahit dan salon kecantikan bagi remaja putri.

Selain bidang pendidikan dan pelatihan, CPI juga membuat program pelestarian budaya dan nilai tradisional Sakai yang dirintis sejak tahun 1994. CPI melakukan inventarisasi bentuk dan jenis seni-budaya, dan membangun rumah adat dan pusat kerajinan tangan Sakai, di Desa Sebanga Asal dan Desa Pinggir.

CPI juga bekerjasama dengan tokoh masyarakat Sakai dan kalangan intelektual dan budayawan di Riau melakukan studi komperehensif tentang konsep dan metode pelestarian nilai budaya Sakai. Hasilnya antara lain himpunan tulisan dari para peneliti tentang berbagai aspek seni budaya Sakai, yang didokumentasikan dalam tiga edisi majalah khsusus yang diberi nama Kusumbo Ampai. Tahun 1999 dilakukan pula pemetaan yang lebih lengkap terhadap kawasan dan kantong-kantong yang ditempati masyarakat Sakai yang tersebar di 14 lokasi dan 3 kecamatan di sekitar daerah operasi CPI.

Banyak upaya CPI bagi pengembangan masyarakat Sakai yang telah dan terus dilakukan sebagai bentuk komitmen perusahaan terhadap penduduk lokal yang tinggal di sekitar daerah operasinya.

Kini upaya-upaya itu telah mulai berbuah, seperti ditunjukkan oleh Syahril. Ia kini terdaftar sebagai mahasiswa S2 untuk bidang studi perencanaan dan pengembangan daerah di Universitas Riau (UNRI). Syahril juga telah mengembangkan kemampuannya berwiraswasta dengan menyewa ruko (rumah-toko) di salah satu kawasan di Pekanbaru tempat ia menjalankan usaha toko peralatan olah raga, penyewaan komputer, dan salon kecantikan yang dikelola oleh remaja putri Sakai.

Tahun 2004 ini, Syahril terpilih sebagai anggota DPRD dalam usia yang relatif muda, 30 tahun. Suatu prestasi yang luar biasa bagi seorang anak masyarakat tempatan.

“Saya tidak akan melupakan bantuan dan dukungan dari CPI dan karyawannya hingga saya dapat berkembang seperti sekarang,” ujarnya.

.::. Rini Makmur (PT. Caltex Pacific Indonesia)

Juli 25, 2008 - Posted by | BEASISWA, Info

1 Komentar »

  1. Mohon CPI membantu kami untuk menggali sejarah Sakai secara lebih mendalam dan detil. sehingga tidak akan bercampur dan simpang siur. mengingat saat ini banyak orang yang mengaku-ngaku sakai hanya demi untuk kepentingan pribadi dan atau kelompoknya.

    Komentar oleh RIMBUN SAMPURNA NEGARA | Mei 18, 2014


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: