Info Beasiswa S1 S2 S3

Beasiswa Scholarships Dalam Negeri Luar Negri

Beasiswa Yatim Piatu Yayasan Trikora

Lewat Bantuan Pendidikan Beasiswa Yatim Piatu Yayasan Trikora ‘Hargai’ Jasa Pahlawan

02 April 2004

Menghormati jasa-jasa pahlawan adalah sebuah keharusan terpuji. Tanpa ada pengorbanan dari para pahlawan kusuma bangsa, tak mungkin ada pembangunan. Kemajuan dicapai saat ini pun tak lepas dari jasa besar mereka. Lantas, apa timbal balik sekaligus penghargaan tertinggi buat ‘darah dan nyawa’ yang telah diberikan putra-putri terbaik bangsa ini? Benarkah Yayasan Trikora memiliki jawabannya?

Tak terbayang bila di negeri ini masih bergolak dalam kancah peperangan. Entah berapa banyak lagi anak-anak harus kehilangan bapak, istri kehilangan suami, dan sebaliknya. Seperti terjadi pada beberapa waktu silam. Akibat peristiwa Trikora, Dwikora dan Operasi Seroja, cukup banyak anak-anak menjadi yatim bahkan yatim piatu.
Pertempuran membebaskan Irian Barat pada tahun 1960-an atau lebih dikenal dengan nama Trikora serta konfrontasi dengan negara Malaysia atau dikenal sebutan sebutan Dwikora, misalnya, menyebabkan banyak prajurit gugur menjadi kusuma bangsa dan meninggalkan keluarga: anak-anak, istri dan orangtua. Belum lagi ditambah dengan mereka yang gugur di medan laga ‘Timor-Timur’ lewat Operasi Seroja.
Haruskah anak keturunan prajurit terbaik bangsa yang tergabung dalam Angkatan Bersenjata Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) atau sekarang dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) minus Kepolisian Republik Indonesia (Polri) – dulu Polri masih tergabung dalam lingkup ABRI/TNI – mereka menjadi terlantar dan tidak memiliki masa depan hanya karena tidak ada pihak yang peduli?
Adalah Yayasan Trikora atau lengkapnya Yayasan Bantuan Beasiswa Yatim Piatu Trikora merupakan salah satu pihak yang memiliki komitmen dan perhatian besar terhadap nasib kelangsungan pendidikan anak-anak prajurit korban Trikora, Dwikora dan Operasi Seroja.
Seperti dijelaskan H Achmad Parwis Nasution, Sekretaris merangkap Bendahara yayasan tersebut, bahwa yayasan hasil gagasan besar dari salah satu putra terbaik milik bangsa – yang saat itu masih menjadi seorang prajurit aktif penerima mandat Pelaksana Komando Operasi Trikora – bertujuan secara khusus memberikan bantuan pendidikan kepada anak-anak prajurit yang gugur. Tepatnya, berupa bantuan beasiswa kepada anak prajurit korban Operasi Trikora, Dwikora dan Seroja. “Bantuan beasiswa tersebut diberikan sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga perguruan tinggi,” kata HA Parwis Nasution pada Majalah GEMARI .
Secara singkat diulas Parwis, yayasan tersebut didirikan tepat pada Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 1963 silam. Modal yayasan pada tahun 1966 tak lebih dari Rp 25 ribu atau setara dengan Rp 25 juta sekarang. Semuanya berasal dari ‘kantong’ pendiri yayasan, yakni Jenderal TNI Soeharto, yang selanjutnya ditambah dari para donatur berbagai kalangan dan instansi.
Beberapa sosok mantan pengurus yayasan di antaranya Ny Yos Sudarso, istri Pahlawan Trikora Laksamana TNI AL Yos Sudarso. Lainnya, Achmad Taher, Munadi, Sugiri, sedangkan tercatat sebagai penyumbang pertama Menteri Tambunan (menteri di era Presiden Soekarno).

Ribuan anak
Selama 38 tahun lebih yayasan telah menyantuni ribuan anak yatim piatu. Hingga akhir tahun 2000 lalu saja ada sekitar 3.244 anak dari 1.086 janda prajurit. Sehingga tak heran bila beberapa mantan penerima bantuan tersebut sudah ada yang berhasil menjadi pejabat, baik sipil, polisi maupun militer serta swasta.
“Merupakan kebanggaan tersendiri bila para mantan penerima bantuan beasiswa Yayasan Trikora dapat berhasil dalam pendidikan sehingga tercapai apa yang dicita-citakannya,” tandas HA Parwis Nasution yang pernah menjadi Dirut Hotel Indonesia, dan direktur utama di beberapa tempat.
Saat ini, jumlah penerima bantuan masih ada sekitar 593 anak dari 373 janda prajurit. Artinya, sudah mulai berkurang karena beberapa penerima lainnya telah menyelesaikan pendidikan tingginya sehingga tidak lagi berhak mendapatkan bantuan beasiswa tersebut. “Karena sudah kita anggap telah mandiri,” kilah Parwis Nasution yang masih tampak gagah dan berapi-api bila bicara, walau usianya telah kepala tujuh.

Naik 200 persen
Secara rutin berkala yayasan membantu meringankan pendidikan kepada siswa TK/SD sebesar Rp 45 ribu, SLTP sebesar Rp 60 ribu, SLTA sebesar Rp 75 ribu dan Perguruan Tinggi (PT) sebesar Rp 135 ribu. Semua bantuan beasiswa tersebut diberikan per triwulan (tiga bulan).
Namun terhitung per Agustus 2000 lalu, pihak yayasan sangat bijak dengan menaikkan bantuan beasiswa sebesar 200 persen. Hal tersebut dilakukan karena mempertimbangkan perkembangan segala kebutuhan yang terus naik.
Untuk tingkat TK/SD menjadi Rp135 ribu, SLTP naik menjadi Rp 180 ribu, SLTA berubah menjadi Rp 225 ribu dan PT naik menjadi sebesar Rp405 ribu. “Tujuannya untuk lebih memacu semangat belajar mereka serta mengacu pada biaya pendidikan yang kian mahal,” ucapnya.
Lebih lanjut, lewat Majalah GEMARI, HA Parwis Nasution berharap agar anak-anak prajurit penerima bantuan beasiswa pendidikan dari yayasan ini kelak bisa memberikan yang terbaik bagi pembangunan bangsa, negara dan masyarakat serta keluarganya. Tentunya dengan tidak melupakan semangat kepahlawanan yang dimiliki orang tuanya dulu.
“Sematkanlah selalu jiwa patriotisme, semangat kepahlawanan yang pernah dimiliki orang tua dan diberikan kepada tanah airnya tercinta,” imbau Parwis penuh harap kepada para mantan penerima bantuan beasiswa. Sebab, lanjut dia, hal seperti itulah yang diinginkan sekaligus dicita-citakan pendiri yayasan agar para mantan penerima di masa mendatang bisa memberikan sumbangsihnya bagi kesinambungan pembangunan nasional menuju masyarakat adil dan makmur.

Iklan

Juli 22, 2008 - Posted by | BEASISWA, dalam negeri

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: