Info Beasiswa S1 S2 S3

Beasiswa Scholarships Dalam Negeri Luar Negri

Putera Sampoerna

TEMPO
Edisi. 28/XXXVI/03 – 9 September 2007

Wawancara

Putera Sampoerna:
Kami Hanya Memilih yang Terbaik

NAMA Sampoerna adalah sebuah monumen dalam industri rokok Tanah Air. Sejak
didirikan pada 1913 oleh Liem Seng Tee lewat rokok kretek Dji Sam Soe, masa
depan perusahaan yang bermarkas di Surabaya ini seolah sudah diguratkan
takdir untuk berkembang melebihi impian terjauh pendirinya. Pada 1977, sang
cucu yang saat itu berusia 30 tahun, Putera Sampoerna, masuk dalam jajaran
pemilik saham. Selebihnya adalah sejarah.
Di tangan Putera, alumnus sekolah bisnis Houston, bisnis Sampoerna
beranak-pinak di banyak bidang. Pada 2001, pria kelahiran Belanda itu
mendirikan Sampoerna Foundation yang bergerak di bidang pendidikan. “Saya
berpikir apa yang bisa kami berikan agar Indonesia bisa lebih cepat bangkit
setelah krisis moneter dan era reformasi,” ujar pebisnis yang ditabalkan
majalah Forbes edisi Juli 2006 sebagai orang terkaya kedua di Indonesia,
dengan ketebalan pundi-pundi sekitar US$ 2,1 miliar.
Lewat yayasan ini, Putera berlari cepat. Ia bahkan tak ragu mengangkat
analis pasar modal kondang dan mantan Direktur Utama Danareksa, Lin Che Wei,
sebagai chief executive officer yayasan sejak pertengahan Agustus,
bertepatan dengan ulang tahun keenam yayasan. Kini, Sampoerna Foundation
telah mengadopsi 17 SMA dan 5 Madrasah di 11 provinsi di Indonesia sebagai
sekolah unggulan.
Program berikutnya, sekitar 36 ribu guru di Jakarta akan ditingkatkan
kompetensinya oleh yayasan ini. “Mimpi saya adalah agar para lulusan SMA
nanti bisa dengan mudah masuk ke perguruan internasional mana pun yang
mereka inginkan,” ujarnya ketika menerima wartawan Tempo, Metta
Dharmasaputra, Nugroho Dewanto, Akmal Nasery Basral, Martha Warta Silaban,
dan fotografer Muradi, di ruang kerja pribadinya di lantai 30 Gedung
Sampoerna Strategic Square, Jakarta Pusat.
Dalam wawancara yang juga diikuti Che Wei, Jacqueline Michelle Sampoerna
(Ketua Dewan Pengawas yang juga putri tertuanya), serta Elan Merdi (chief
operating officer), Putera menjawab seraya sesekali menyelipkan humornya
yang menyegarkan suasana. Sejak awal perbincangan ia sudah menetapkan rambu
yang tak bisa ditawar: “Bisnis bukan fokus pembicaraan kita kali ini. Hanya
mengenai pendidikan.”

Bagaimana awal munculnya ide Sampoerna Foundation?
Pada 2001 yayasan ini berdiri. Setelah krisis moneter dan era reformasi,
saya berpikir apa yang bisa kami berikan agar Indonesia bisa lebih cepat
bangkit. Salah satu jawabannya adalah dengan menciptakan pemimpin masa
depan. Bukan kalangan akademisi, tapi individu yang lebih siap menghadapi
tantangan. Seperti Anda lihat, banyak rakyat kita yang belum terdidik dengan
baik, demokrasi masih lemah. Saat tokoh masyarakat bilang kuning, semua
kuning. Merah, ya semua merah, tanpa memikirkan apa yang sebenarnya mereka
inginkan. Bagaimana mungkin kita memperbaiki masyarakat tanpa orang-orang
yang berkarakter? Saat itu, ada kesan kuat bahwa masyarakat kita adalah
anti-Cina. Itu keliru. Menurut saya, yang terjadi adalah masyarakat anti
terhadap kelas komersial. Ini yang perlu dipahami dengan lebih baik. Karena
itu, pemimpin yang dibutuhkan juga bukan hanya orang yang mengerti ekonomi,
tapi juga bermoral luhur.

Mengapa fokusnya pendidikan?
Menurut saya, berapa pun banyaknya uang yang kita punyai, tak akan bisa
menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat kita. Karena itu,
pertanyaannya adalah “Apakah kita akan meninggalkan dunia yang lebih baik
setelah kita meninggal?” Setiap orang bisa melakukannya, misalkan memberi
waktu dan uang untuk dikelola. Tapi, untuk itu perlu banyak orang yang
berpartisipasi. Anggap saja Sampoerna Foundation adalah sebuah kendaraan
bagi orang-orang yang tidak memiliki waktu untuk berdonasi, tapi ingin
memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan negeri ini. Pendidikan adalah
awal dari segala sesuatu, seperti kata sebuah ungkapan: “Jangan berikan
ikan, tapi sediakan joran.”

Masalah apa yang paling sulit dihadapi saat awal beroperasinya yayasan ini?
Mengerti keinginan masyarakat. Untuk memulainya saya tidak dapat
melakukannya dengan menyediakan insinyur, ahli hukum, ilmuwan, atau dokter.
Saya ingin sekali, tapi sumber tak ada. Namun, saya siap membantu. Bagi
saya, sekarang ini yang penting adalah ilmuwan di bidang sosial, yang
mengerti persoalan sosial, pemerintahan, dan ekonomi. Mengerti masyarakat
dan mengerti pemerintah adalah hal penting.

Menurut Anda, mana yang lebih sulit di antara keduanya?
Keduanya tak terpisahkan. Sebagai masyarakat, Anda harus paham tentang
fungsi pemerintah, termasuk mengerti fungsi kelas pedagang. Bagi saya,
negeri ini sudah memberikan kemakmuran kepada saya, yang ingin saya berikan
kembali kepada masyarakat. Izinkan saya giring orang Indonesia masuk ke
kalangan intelektual yang lebih luas. Jika Anda memberikan kesempatan untuk
belajar, untuk mengerti teknologi, mereka bisa unjuk gigi di tingkat
internasional. Bukan lagi sekadar tukang gunting. Itu yang bisa dicapai
lewat pendidikan.

Jadi, Anda melihat permasalahan di luar perusahaan ketimbang di dalam
perusahaan sendiri, padahal Sampoerna sebagai perusahaan rokok tidak
membutuhkan sumber daya manusia yang canggih melainkan teknologi?
Orang melihat Sampoerna sebagai perusahaan dari Indonesia, tapi Indonesia
yang seperti apa? Lihat saja CNN yang hanya meliput Indonesia tentang batik.
Ini sebuah sinyal. Ketika saya sekolah di Amerika, saya juga pernah
mengalami diskriminasi. Mereka memandang rendah saya. “Dari mana?” tanya
mereka sinis, “Indonesia?” (“Sebuah rimba,” sambung Michelle, “di mana
orang-orang bergelayut dari pohon ke pohon.”)

Di Indonesia saya disebut berasal dari kalangan elite, tapi di Amerika saya
bukan siapa-siapa. Saat Anda mengalami diskriminasi seperti itu, apa yang
bisa Anda lakukan? Menangis? Berdiam? Atau bekerja keras untuk menunjukkan
kualitas Anda yang sebenarnya?

Mengapa Anda berani menginjeksikan US$ 150 juta (sekitar Rp 1,4 triliun)
selama 10 tahun ke depan?
Saya tidak memberikan komentar pada pendapat orang. Anda pun bisa memberikan
sumbangan sebanyak itu untuk menjalankan yayasan ini. Kalau saya berbuat
seperti ini untuk yayasan, apakah orang lain akan mau membantu? Saya tidak
yakin. Tapi, yang jelas, saya yakin masyarakat dari golongan atas sampai
yang terendah dapat mendukung program ini bersama-sama, bahkan jika Anda
ingin menggunakan nama Anda untuk sebuah sumbangan yang Anda berikan.
Misalkan Lin Che Wei ingin mendirikan lembaga, maka kami akan membantu,
bahkan akan membuat lembaga itu menjadi Lin Che Wei Foundation. Tak jadi
masalah.

Sejauh ini, apakah hasil yang Anda capai selama enam tahun sudah memuaskan?
Saya kira, ya, meskipun dalam perjalanannya ada kelemahan ini-itu.
Pemerintah ingin warganya menikmati pendidikan menengah dan lulus SMA. Kini
kami menyediakan beasiswa untuk dalam dan luar negeri. Kita membutuhkan
proses untuk menyaingi negara lain yang lebih maju, misalkan Singapura.
Biaya pendidikan seorang mahasiswa di sebuah universitas di Indonesia
sebesar Rp 18 juta per tahun. Angka ini sangat jauh bila dibandingkan dengan
Singapura yang mencapai Rp 150 juta per tahun. Makanya kami membutuhkan
banyak orang untuk mendukung.

Pendidikan adalah persoalan yang kompleks? Dari mana Anda ingin memulai?
Sekarang ini guru digaji rendah. Kualitas mereka diragukan. Gaji maksimal
(untuk pegawai negeri sipil) mungkin Rp 3 juta. Coba bandingkan dengan gaji
guru di (ia menyebut nama sebuah sekolah swasta—Red.) yang bisa Rp 15 juta
sebulan. Idealnya, menurut saya, para guru kita mendapat level gaji Rp 8–10
juta. Itu guru dengan level A, karena seorang guru yang baik akan
mentransfer ilmu kepada 50 orang muridnya yang juga akan menjadi level A,
yang siap bersaing memasuki kampus perguruan tinggi internasional. Tapi,
persoalannya sekarang adalah dari mana mendapatkan uang yang sebanyak itu
untuk mendukung program pendidikan guru? Lalu yang tak kalah penting: dari
mana gurunya? Ini seperti problem lingkaran setan, mana yang lebih dulu
antara ayam dan telur? Menurut saya, kualitas guru harus diperbaiki lebih
dulu.

Untuk mendapatkan para guru dengan level A itu, apakah yayasan yang memilih
mereka secara eksklusif atau guru mana pun di Indonesia bisa mengikuti
program ini dengan mengajukan aplikasi?
Bisa dua-duanya. Sampoerna Foundation tidak mengambil keuntungan dari dana
pendidikan itu. Tapi, jika saya memiliki sekolah dengan label Sampoerna,
maka saya akan menyediakan guru sendiri. Cuma saya ingin mengingatkan
pemerintah, kalau kami diberikan (guru dengan kualitas) sampah, maka yang
kami kembalikan pun sampah. Bedanya cuma sampah yang kami kembalikan itu
sudah diberi pita. Berikan kami yang baik, maka akan kami jadikan mereka
(memiliki) level A.

Adakah model pendidikan di lembaga tertentu atau di negara tertentu yang
dijadikan acuan?
Untuk model pendidikan yang baik di sini contohnya Pelita Harapan. Tapi jika
Sampoerna memiliki 6.000 lulusan SMA yang terbaik dari, misalnya, 50 sekolah
di Indonesia setiap tahunnya, untuk melanjutkan pendidikan ke universitas,
dan dalam empat tahun kemudian, akan ada sekitar 24 ribu lulusan universitas
yang bermutu tinggi. Setidaknya bisa mengurangi lulusan SMA yang bekerja
hanya sebagai sopir taksi.

Tapi, kami tidak mungkin bisa berjalan sendiri dengan uang yang ada
sekarang, yang disebut orang-orang sebagai perusahaan kaya. Kami bukanlah
lembaga sosial, melainkan memberikan pinjaman pendidikan yang akan
dikembalikan dalam kurun waktu tertentu, dari gaji yang didapat para
penerima beasiswa itu setelah mereka bekerja. Saya bukan pemerintah yang
memberikan dana untuk membiayai pendidikan dari anggaran biaya pendidikan.
Mungkin kami terlihat diskriminatif karena hanya memilih yang terbaik,
tetapi kami harus fokus. Tidak mungkin membantu semuanya.

Bagaimana Anda melihat dunia pendidikan Indonesia selama tiga dekade
terakhir?
Sebelum krisis moneter, meskipun banyak kepentingan politik, pendidikan
masih lumayan diperhatikan. Setelah krisis, banyak hal yang harus
dikerjakan. Pendidikan jadi terabaikan. Kita sekarang ingin berkonsentrasi
pada dunia industri. Tapi, bisakah kita bersaing dengan Cina dan Vietnam?
Mereka bisa fleksibel bekerja pada plastik dan tekstil. Kita masih juga
terbentur dengan kebudayaan, misalkan perempuan yang harus pulang ke rumah
untuk memasak. Di satu sisi pemerintah ingin mengembangkan pertanian, tapi
juga industri. Ingin mengerjakan banyak hal sekaligus, tapi tidak ada dana.
Itu sama halnya ketika Anda meminta saya untuk mengerjakan 15 hal yang perlu
dikerjakan, tapi saya hanya mengerjakan lima saja. Bagaimana? Persoalan di
masyarakat kita terlalu banyak. Kalau Anda mengharapkan saya mengerjakan
banyak hal sekaligus, carikan saya uang, maka saya akan kerjakan.

Jika nanti konsep Anda berhasil dan banyak lulusan bermutu tinggi dari
yayasan ini, apakah Anda juga akan menyediakan lapangan pekerjaan bagi
mereka?
Hanya satu perusahaan bernama Sampoerna dan satu yayasan bernama Sampoerna
Foundation, mana mungkin dapat menyelesaikan masalah? Kita harus memperbaiki
ekonomi bersama-sama. Setidaknya perbaiki beberapa bidang yang penting.
Fokus saja pada tiga hal, yakni pertanian, kayu, dan mineral. Di situ kita
bisa bersaing dengan negara lain seperti Brasil atau Kongo.

Apa resep keberhasilan Anda mengelola Sampoerna Foundation?
Saya tidak akan beri tahu Anda (tersenyum). Tidak semua orang bisa
mendirikan lembaga pendidikan. Banyak pengusaha yang mendirikan yayasan agar
istri mereka punya kegiatan, padahal yang mereka lakukan hanya kumpul-kumpul
saja seperti sebuah klub. Untuk mendirikan sebuah yayasan, Anda harus
mempunyai visi dan misi. Saya berharap bisa mendapatkan uang lebih banyak
untuk menjalankan yayasan ini. Saya sedih hanya bisa membantu 6.000 lulusan
SMA. Makanya beri saya tambahan uang.

Apakah Anda masih terlibat langsung dalam pengelolaan yayasan atau hanya
menerima laporan?
Saya sudah pensiun. Saya hanya menurunkan visi dan misi kepada Michelle,
Elan, dan Lin Che Wei. Mereka yang bekerja full time.

———————————

Putera Sampoerna
Lahir:

Schiedam, Belanda, 13 Oktober 1947

Pendidikan:

University of Houston, Amerika Serikat

Iklan

Juli 21, 2008 - Posted by | BEASISWA, beasiswa s1, beasiswa s2, beasiswa s3

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: