Info Beasiswa S1 S2 S3

Beasiswa Scholarships Dalam Negeri Luar Negri

Mencari Universitas dan Beasiswa Studi Pascasarjana di Australia

Serba-Serbi Mencari Universitas dan Beasiswa untuk Studi Pascasarjana di Australia
Lukito Edi Nugroho *)

Australia merupakan salah satu negara tujuan terpopuler bagi para pelajar Indonesia, baik di tingkat sarjana maupun pascasarjana. Kedekatan geografis dengan Indonesia, keterbukaan institusi pendidikan terhadap mahasiswa asing, biaya pendidikan yang kompetitif, serta kesempatan memperoleh beasiswa, merupakan faktor-faktor pendorong semakin banyaknya mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas di Australia. Pada tingkat pascasarjana, tawaran beasiswa ADS AusAid yang di kalangan calon mahasiswa pascasarjana dikenal cukup ‘royal’ menjadi faktor pendorong lain. Kondisi ini ditambah lagi dengan situasi ekonomi di Indonesia yang baru terkena krisis moneter, yang menjadikan para lulusan S1 tidak memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, sehingga melanjutkan studi pascasarjana berbekal beasiswa menjadi alternatif yang populer.

Selama penulis menjadi mahasiswa doktoral di Monash University, banyak sekali pertanyaan yang terlontar dari para calon mahasiswa pascasarjana ini yang berkaitan dengan kemungkinan dan cara untuk bisa diterima di universitas di Australia. Berdasarkan demand yang cukup tinggi inilah tulisan ini disusun. Tujuannya adalah memberikan informasi kepada para calon mahasiswa tentang serba-serbi melamar universitas di Australia dan mencari beasiswa untuk membiayainya.

Pertama, sebuah disclaimer. Tulisan ini bukan “buku panduan”. Sangat mungkin ada kekuranglengkapan atau ketidakakuratan dalam penyampaian informasi. Semua bahan berasal dari pengalaman dan pengetahuan penulis pribadi, dan tidak mencerminkan kebijakan atau pendapat resmi institusi manapun. Sebagai sebuah “cerita”, tentu saja ada unsur subyektifitas, dan tidak semua hal yang disampaikan dalam tulisan ini berlaku sama untuk semua orang. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang ditimbulkan, baik langsung maupun tidak langsung.

Beasiswa: AusAid atau Non-AusAid
Bagi para pencari beasiswa untuk studi di Australia, nama AusAid memang populer. Kepopulerannya disebabkan karena banyaknya beasiswa yang ditawarkan pertahunnya (sekitar 330 untuk entri tahun 2001) dan cakupan beasiswa yang komprehensif (tunjangan hidup, tunjangan keluarga, biaya asuransi kesehatan, biaya lain-lain yang berhubungan dengan studi – mis: jika kita kesulitan mengikuti kuliah, kita bisa minta bantuan tutor dan AusAid akan mendukung pembiayaannya). Selain itu, yang tidak banyak diketahui oleh para pelamar adalah bahwa di Australia sendiri, beasiswa AusAid termasuk “sakti” dibandingkan beasiswa yang lain. Apalagi bila kita membawa anak dan istri. Sebagai contoh, sekolah anak kita (SD sampai SMA) digratiskan. Kalau ada anak yang masuk penitipan anak (child care), kita berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah Australia untuk membayar ongkosnya.
Di sisi lain, beasiswa AusAid didesign untuk “mengikat” agar para penerimanya kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi. Ini dituangkan dalam kontrak, dan jika kontrak ini dilanggar, si penerima diharuskan mengganti semua biaya yang telah diterimanya. Jika kita tidak ingin terikat, misalnya jika kita ingin mencari pekerjaan di Australia setelah selesai studi, persyaratan ini cukup mengganggu.

Layaknya calon mahasiswa menempuh ujian UMPTN, kemungkinan seorang pelamar untuk mendapatkan beasiswa AusAid cukup kecil. Rasio penerimaannya sekitar 1:10. Bedanya dengan UMPTN, seleksi tidak hanya berdasarkan pada faktor merit saja. Para pelamar dari Indonesia Timur, misalnya, mendapatkan prioritas lebih dibandingkan saingannya dari Indonesia Barat. Maksudnya, jika ada dua orang pelamar mendapatkan nilai yang sama untuk aspek-aspek lain, maka pelamar dari Indonesia Timur memperoleh preferensi daripada saingannya dari Indonesia Barat. Perbedaan preferensi ini muncul pula pada aspek jenis kelamin (preferensi wanita lebih tinggi), jenjang pendidikan (alokasi untuk S2 lebih banyak daripada untuk S3, dan beasiswa untuk program S3 hanya diberikan untuk profesi-profesi tertentu saja), dan bidang ilmu (saat ini bidang ekonomi, keuangan, manajemen, dan bisnis sedang menjadi primadona).

Sekiranya beasiswa AusAid gagal diperoleh, masih ada kesempatan lain. Salah satu sumber beasiswa yang lain adalah universitas tempat kita belajar. Pemerintah Australia juga menawarkan beasiswa lain kepada mahasiswa pascasarjana asing. Berbeda dengan AusAid, beasiswa ini bersifat umum, bukan atas perjanjian G-to-G (antar pemerintah). Selain itu, banyak universitas di Australia, terutama yang besar, yang menawarkan beasiswa kepada mahasiswa asing. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

International Postgraduate Research Scholarships (IPRS). Dari pemerintah Australia, tiap tahun sekitar 300 beasiswa yang dibagi ke seluruh universitas di Australia. Sebagai contoh, Monash mendapatkan alokasi sekitar 20 beasiswa per tahunnya. Beasiswa ini hanya mencakup uang kuliah saja.
Beasiswa dari masing-masing universitas. Pada umumnya masing-masing universitas juga menawarkan beasiswa, baik untuk mahasiswa Australia maupun mahasiswa asing. Hanya saja biasanya beasiswa ini khusus diberikan untuk para mahasiswa riset (mahasiswa yang mengambil program kuliah tidak bisa melamar). Di universitas-universitas besar bahkan ada beberapa department atau institut riset di lingkungan universitas yang menawarkan beasiswa secara independen. Sebagai contoh, Monash University menyediakan beberapa jenis beasiswa yang bisa digunakan oleh mahasiswa asing:
Monash Graduate Scholarship (MGS): sekitar 100 beasiswa per tahun. Mencakup tunjangan hidup saja. Untuk mahasiswa riset program master dan doktor.
Monash International Postgraduate Research Scholarships: sekitar 20 beasiswa untuk intake tahun 2000. Mencakup biaya sekolah saja.
Untuk detil lebih lanjut tentang jenis-jenis beasiswa dan cakupannya, lihat homepage (HP) masing-masing universitas. Selain Monash, universitas-universitas besar seperti Melbourne University, Sydney University, University of Queensland, Queensland University of Technology, University of New South Wales, Australian National University, atau University of Western Australia juga menyediakan beasiswa-beasiswa serupa.
Pada umumnya memang beasiswa yang ditawarkan oleh universitas hanya untuk mahasiswa yang mengambil program riset saja. Hal ini dapat dimengerti berkait dengan peningkatan mutu universitas yang bersangkutan. Riset yang dilakukan para mahasiswa ini berakibat positif bagi nama universitas. Dengan temuan-temuan baru, publikasi-publikasi di jurnal internasional, nama sebuah universitas bisa menjadi terkenal. Di sini muncul hubungan saling menguntungkan antara universitas dan mahasiswanya.

Sebuah beasiswa dari universitas biasanya juga hanya mencakup salah satu dari biaya kuliah atau tunjangan hidup saja. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan. Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup dengan beasiswa jenis ini. Pertama, carilah dua beasiswa yang memiliki cakupan berbeda, misalnya IPRS dan MGS (di Monash). Cara kedua lebih umum dilakukan: bekerja sembari kuliah. Meski pada umumnya pihak universitas membatasi jumlah jam kerja yang dibolehkan untuk para penerima beasiswa universitas (di Monash kita hanya boleh bekerja maksimal 15 jam per minggu – misalnya sebagai tutor atau dosen), tapi biasanya gaji yang diterima bisa mencukupi kebutuhan dasar kita sebagai mahasiswa.

Karena sifatnya yang umum (mahasiswa dari negara manapun – kecuali New Zealand – boleh melamar), persaingan untuk mendapatkan beasiswa ini juga cukup ketat. Mahasiswa Indonesia pada umumnya kalah bersaing dalam hal bahasa Inggris dan karya ilmiah.

Pengelolaan beasiswa universitas dilakukan oleh universitas sendiri, oleh karenanya lamaran beasiswa biasanya dilakukan bersamaan dengan lamaran ke universitas tersebut, dan seleksi bisa dilakukan dalam waktu yang lebih singkat.

Strategi Mendapatkan Beasiswa AusAid
Dari sebagian besar pertanyaan seputar studi di Australia yang penulis dapatkan, sebagian besar berkisar tentang bagaimana strategi untuk memperoleh beasiswa AusAid. Uraian berikut ini membicarakan tentang beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memperbesar kemungkinan keberhasilan. Uraian ini mengesampingkan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil seleksi, tetapi tidak mungkin untuk dimanipulasi, misalnya: status pekerjaan, gender, bidang studi, domisili, dan sebagainya.
Selain kemampuan berbahasa Inggris (dinilai dari hasil test IELTS) dan motivasi (dari hasil wawancara), poin penting yang lain adalah keterangan bahwa si pelamar secara prinsip dinyatakan diterima di salah satu universitas, dan seorang staf dosen di universitas tersebut bersedia untuk membimbingnya (untuk program riset, terutama jenjang S3). Bagi AusAid, terpenuhinya persyaratan ini berarti mereka tidak perlu lagi bersusah payah mencarikan sekolah dan pembimbing bagi pelamar yang lolos seleksi beasiswa. Bagi calon mahasiswa, persyaratan ini mengharuskan mereka berhubungan dengan pihak universitas dan calon supervisornya. Strategi untuk mendaftar ke universitas dapat dilihat di sini, dan petunjuk dalam memilih calon supervisor bisa dibaca di sini.

Yang perlu diperhatikan adalah masalah waktu. Biasanya pendaftaran untuk beasiswa AusAid ditutup sekitar bulan September atau Oktober (bagi para pelamar yang berasal dari lingkungan departemen, biasanya pihak departemen menetapkan deadline waktu yang lebih awal, sekitar Juli atau Agustus). Dengan asumsi kita harus berkomunikasi dengan pihak universitas di Australia, maka sebaiknya proses pencarian beasiswa ini dimulai satu semester sebelumnya, sekitar bulan Januari atau Februari. Tenggang waktu yang panjang ini diperlukan karena mungkin saja pihak universitas meminta kita melengkapi syarat-syarat adminisitratif yang belum kita miliki, seperti nilai TOEFL atau IELTS, misalnya.

Banyak calon pelamar beasiswa AusAid yang gagal hanya karena masalah administratif, terutama soal kelengkapan berkas dokumen. Seleksi awal biasanya dilakukan atas kelengkapan dokumen. Sedikit saja kurang lengkap (kurang tanda tangan pejabat BKLN/Litbang, kurang copy ijasah atau transkrip, kurang surat keterangan dari calon supervisor untuk level S3), tidak ampun lagi berkas kita akan masuk tong sampah. Hal ini bisa dimaklumi, karena seleksi yang paling mudah atas ribuan pelamar adalah evaluasi kelengkapan berkas ini.

Untuk menghadapi test IELTS, tidak ada yang bisa dilakukan secara khusus. Seperti test bahasa yang lain, test ini menilai kemampuan berbahasa, yang tidak bisa dipelajari secara crash course dalam waktu singkat. Paling-paling yang bisa dilakukan adalah mencoba mengetahui format test IELTS.

Dalam menghadapi wawancara, yang diperlukan adalah rasa percaya diri. Kepercayaan diri yang besar dalam menghadapi pewawancara dapat menimbulkan kesan yang baik bagi mereka. Perlu diperhatikan bahwa test wawancara ini sedikit banyak bersifat subyektif. Jelaskan tentang apa yang akan kita lakukan selama studi di Australia. Jelaskan tentang pentingnya studi atau riset kita, termasuk kegunaannya bagi masyarakat Indonesia. Ungkapkan dengan bahasa Inggris yang benar dan menggunakan istilah yang mudah dipahami oleh umum, karena para pewawancara ini biasanya memiliki bidang yang berbeda dengan bidang kita.. Kadang-kadang dalam wawancara muncul perdebatan. Berdebatlah dengan argumentasi yang sehat, jangan asal mengutarakan pendapat karena hal ini hanya akan menimbulkan kesan jelek. Berikan pula kesan positif bahwa kita bisa survive selama berada di Australia, jangan tonjolkan kemungkinan untuk home sick dan problem-problem pribadi lainnya.

Memilih Universitas dan Bidang Studi/Riset
Universitas mana yang cocok untuk saya ? Department apa yang cocok untuk saya ? Saya ingin meneliti tentang topik X, universitas dan department mana yang paling pas ? Topik manakah yang sedang menjadi hot topics dan menjanjikan reward yang memadai ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas tipikal disampaikan oleh para pemburu sekolah dan beasiswa. Sayangnya, tidak ada jawaban yang definitif untuk semua pertanyaan tersebut. Persoalannya adalah masing-masing orang punya preferensi dan latar belakang yang berbeda. Petunjuk-petunjuk berikut ini mencoba seobyektif mungkin untuk memberi arah bagi para calon mahasiswa untuk menentukan sendiri pilihannya.

Universitas
Beberapa tahun terakhir ini universitas-universitas di Australia berlomba-lomba berpromosi ke Indonesia. Mereka lebih membuka diri bagi mahasiswa asing, setelah pemerintah Australia memotong anggaran pendidikan pendidikan tinggi yang secara signifikan mengurangi sumber dana mereka. Mahasiswa asing sekarang dianggap sebagai sumber dana utama. Dari pameran-pameran promosi ini kita bisa mendapatkan berbagai informasi tentang universitas yang bersangkutan sebagai dasar dalam menentukan keputusan.
Meskipun demikian, sumber-sumber informasi informalpun layak untuk diperhatikan. Contohnya adalah komunikasi antarpersonal, misalnya dengan alumni universitas yang bersangkutan atau mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di sana. Dari sumber informasi informal bisa digali informasi informal pula, yang kadang-kadang memiliki nuansa khusus yang tidak bisa didapatkan dari pameran promosi pendidikan. Contohnya adalah informasi detil tentang seorang dosen yang diarah untuk menjadi supervisor, kondisi internal sebuah department, atau fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh department atau universitas.

Menilai universitas tidak bisa hanya dilakukan dengan melihat kebesaran namanya saja. Nama universitas bersifat makro, cakupannya luas sekali. Sementara kita akan berada di bagian dari sebuah department dengan lingkup yang kecil. Apalagi bila kita menempuh program riset, di mana keterikatan dengan komunitas riset kita akan lebih dominan dibandingkan keterikatan kita dengan universitas atau department. Dengan kata lain, universitas X boleh saja dikatakan paling top di Australia, tapi bila department Y dalam universitas tersebut (di mana kita akan berada) memiliki peringkat yang tidak baik, tidak adalah arti nama besar yang dimiliki X. Atau bila department Y tersebut juga memiliki reputasi baik, tetapi bila riset kita dalam bidang Z tidak didukung oleh sarana yang cukup dan suasana yang kondusif, tidak banyak manfaat yang bisa kita peroleh dengan bersekolah di sana.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih universitas:

Reputasi. Ini adalah indikator makro dari universitas yang bersangkutan. Universitas yang memiliki reputasi baik berarti kinerja unit-unit kerjanya secara rata-rata juga baik.
Program yang ditawarkan. Universitas yang menawarkan program yang cocok dengan minat atau topik penelitian kita setidaknya memiliki fasilitas pendukung yang kita perlukan pada saatnya kita belajar atau melakukan riset di sana.
Fasilitas. Sarana dan fasilitas pendukung perlu diperhatikan. Secara umum, perhatikan terutama fasilitas perpustakaan dan sarana komputasi termasuk Internet.
Staf pengajar dan pembimbing. Pada umumnya staf pengajar memiliki kualifikasi doktor atau master (untuk mengajar level bachelor). Jika akan mengambil program kuliah, perhatikan bahwa jam terbang mereka tinggi (berpengalaman dalam mengajar di bidangnya). Ada universitas yang “mempekerjakan” mahasiswa doktoral sebagai dosen karena mereka kekurangan dosen tetap. Secara material mungkin pengetahuan para mahasiswa doktoral ini mencukupi, tetapi mengajar tetaplah memerlukan seni yang lain. Tidak ada gunanya dosen berilmu tinggi tapi tidak bisa menyampaikannya kepada murid-muridnya.
Kurikulum. Informasi tentang kurikulum dan silabus biasanya bisa diperoleh dari handbook mahasiswa. Jika kita mengambil program kuliah, kurikulum perlu diamati karena ia akan membentuk karakteristik akademis kita. Amati dengan cermat karena efek kurikulum ini akan langsung mengena kepada diri kita, dan terkadang pengaruhnya cukup signifikan dalam kehidupan akademis kita pada masa yang akan datang. Sebagai contoh, dalam bidang teknologi informasi, aspek-aspek seperti matematika diskret, struktur data dan algoritma, dan teori automata berfungsi meletakkan fundamen ilmu komputer. Tanpa penguasaan aspek-aspek fundamental semacam ini, pengembangan ilmu kita tidak berpijak pada dasar yang kokoh. Dengan tuntutan pragmatis dari pihak industri yang begitu deras, besar godaan bagi pihak universitas untuk mengabaikan matakuliah-matakuliah dasar dan menggantikannya dengan matakuliah terapan, kemudian mengemasnya dalam kurikulum dengan nama yang “tidak sesuai dengan isi”.
Lokasi. Meskipun tidak secara langsung, lokasi universitas bisa berpengaruh terhadap keberhasilan studi kita, terutama jika kita membawa keluarga ke Australia. Membawa keluarga berarti kita harus memikirkan kepentingan istri dan anak, dan itu berkaitan erat dengan lingkungan kita. Secara umum, kota besar menawarkan lebih banyak pilihan dan kesempatan beraktivitas bagi seluruh anggota keluarga. Komunitas sesama orang Indonesia juga biasanya lebih besar. Lingkungan seperti ini sedikit banyak bisa mengurangi tekanan psikologis anggota keluarga (terutama istri) selama berada di luar negeri. Sebaliknya, kota kecil menawarkan lingkungan yang lebih menyenangkan untuk belajar. Keadaan alamnya biasanya lebih natural, membuat kita selalu merasa fresh.
Proses pendaftaran ke universitas bisa dimulai dengan menghubungi bagian admisi. Biasanya halaman web tentang pendaftaran mahasiswa berisi pula informasi tentang beasiswa, program studi, bahkan formulir pendaftaran. Salah satu problem yang biasa ditemukan adalah universitas mensyaratkan calon mahasiswa sudah memiliki sumber dana untuk biaya studi, sementara di sisi lain tujuan sang calon mahasiswa melamar ke universitas adalah dalam rangka melamar beasiswa AusAid. Lingkaran setan ini sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dipecahkan. Kuncinya adalah komunikasi dengan pihak universitas. Kita bisa menjelaskan kepada mereka tentang tujuan kita melamar ke universitas tersebut dalam rangka memperoleh beasiswa. Pada umumnya mereka akan mengerti, karena saat ini mahasiswa asing merupakan tujuan utama mereka dalam mencari dana. Usahakan untuk bisa mendapatkan letter of acceptance, yaitu keterangan bahwa secara prinsip universitas bisa menerima kita sebagai mahasiswa. Surat inilah yang nanti kita sertakan dalam berkas aplikasi AusAid kita.
Bidang Studi dan Topik Riset
Pemilihan bidang studi bersifat subyektif sekali, sepenuhnya ditentukan oleh calon mahasiswa. Masing-masing orang memiliki latar belakang dan alasan untuk memilih suatu bidang studi, sehingga tidak bisa diperdebatkan. Petunjuk-petunjuk obyektif dalam memilih bidan studi sama dengan petunjuk untuk memilih universitas.
Pertanyaan selanjutnya, mana yang lebih baik, program riset atau kuliah ? Ini terutama untuk jenjang master. Jenjang doktoral hanya mengenal program riset saja. Jika kita ingin melanjutkan ke level S3, maka sebaiknya pada saat S2 mengambil program yang memiliki komponen riset (100% riset atau 66% riset). Alasannya untuk mengenalkan bagaimana cara melakukan riset dengan benar, sehingga saat menempuh S3 kelak tidak canggung dan kesulitan lagi. Lagipula ada sebagian universitas yang “tidak secara formal” mensyaratkan S2 dengan komponen riset untuk bisa diterima di jenjang doktoral.

Tidak seperti pemilihan bidang studi, pemilihan topik riset merupakan kesepakatan dua pihak antara mahasiswa dan pembimbing. Kondisi idealnya adalah keduanya memiliki minat yang sama tentang topik yang akan diteliti. Untuk itu diperlukan komunikasi pendahuluan dengan calon pembimbing. Tujuan handshaking ini adalah untuk menyamakan persepsi sehingga semua aktivitas dan keputusan dalam riset diambil dengan menggunakan sudut pandang yang sama.

Memilih topik penelitian, apalagi untuk riset doktoral, tidaklah semudah yang kita duga. Topik riset haruslah cukup spesifik, dan yang lebih penting lagi, mengandung unsur orisinalitas dan inovasi. Di Indonesia kita tidak terbiasa dengan iklim penelitian yang kondusif, sehingga untuk menentukan bahwa sebuah topik riset sudah cukup spesifik, orisinil, dan inovatifpun kita kesulitan. Kesulitan utama adalah pengetahuan kita tentang bidang tersebut yang pada umumnya terbelakang, dan akses ke sumber informasi yang amat terbatas (berapa jumlah jurnal yang dilanggan di universitas di Indonesia ?). Untuk mengatasi problem-problem ini, mau tidak mau kita harus belajar. Kita fokuskan perhatian pada satu bidang yang kita minati, untuk kemudian mencari celah-celah yang belum dilakukan orang lain. Untuk hal ini kita bisa menggunakan Internet untuk mengakses informasi yang diperlukan. Dalam bidang teknologi informasi, menjadi anggota perpustakaan digital ACM atau IEEE akan sangat menguntungkan karena bisa mengakses ribuan artikel jurnal dan konferensi.

Memilih Supervisor
Di Australia, supervisor dianggap “dewa” oleb para mahasiswa bimbingannya. Ia memiliki otoritas yang tinggi dalam proses pembimbingan. Dari mulai penentuan topik (dilakukan bersama mahasiswa yang bersangkutan), mengarahkan ke mana riset akan berjalan, menentukan bobot riset, sampai ke pemilihan penguji thesis. Karena itu memilih supervisor tidak bisa dilakukan secara sembarangan, karena sekali kita menjatuhkan pilihan, kita terikat selama masa studi kita.
Pada umumnya para calon mahasiswa berharap bahwa supervisor mereka dapat menjadi sparring partner sekaligus guru. Seorang supervisor diharapkan bisa mengarahkan, sekaligus tempat bertanya untuk segala hal yang berhubungan dengan riset sang mahasiswa. Sayang sekali ekspektasi seperti ini tidak selalu dapat terpenuhi, apalagi jika sang mahasiswa menempuh jenjang doktoral. Untuk program S3, pada umumnya pembimbing benar-benar menempatkan dirinya sebagai pengarah, bukan sebagai penasihat. Sebagai pengarah, dia hanya berfungsi mengarahkan agar riset tidak keluar dari kerangka (framework) yang telah disepakati bersama. Dia tidak akan “masuk” ke level detail (misalnya, teknik pemrograman dsb). Peran sebagai sparring partner dilakukan dengan cara melakukan exercise pada level konseptual, terhadap ide-ide dari mahasiswa yang muncul selama riset berlangsung.

Pada saat mencari supervisor, umumnya mahasiswa mencari dosen yang memiliki bidang keahlian yang sama. Setelah diterima di universitas dan bekerja di bawah bimbingan dosen tersebut, ternyata keduanya tidak bisa saling berdiskusi tentang materi penelitian dengan baik. Mahasiswa kemudian biasanya menyalahkan supervisor dan menganggap dia tidak menguasai bidangnya. Belum tentu demikian. Sebuah bidang ilmu biasanya memiliki cakupan yang luas. Pada saat mahasiswa belum menjalani riset, persamaan dalam tataran bidang ilmu mungkin sudah mencukupi. Setelah sang mahasiswa menjalani riset dan menyelam ke lautan pengetahuan dalam topik risetnya, pengetahuannya bertambah dan semakin spesifik. Proses pertumbuhan ini kadang-kadang tidak melalui daerah yang sama dengan daerah milik supervisor. Dalam satu bidang ilmu, keduanya tumbuh dan berkembang di daerah yang berbeda. Jika hal ini terjadi, komunikasi secara efektif hanya bisa dilakukan pada tataran dasar di mana keduanya masih memiliki persamaan.

Perbedaan dalam bidang keahlian tidaklah otomatis membuat hubungan pembimbing dan mahasiswa menjadi tidak harmonis. Kelancaran proses supervisi tergantung pula pada metaknowledge dalam membimbing, atau “ilmu” dalam membimbing riset mahasiswa. Seperti halnya mengajar, membimbing riset memerlukan keahlian khusus pula. Bagaimana memotivasi mahasiswa, menjaga ritme penelitian, mengarahkan riset agar tidak keluar jalur, serta mengukur kemampuan mahasiswa terhadap beban riset, ini semua harus diperhatikan oleh seorang supervisor. Meskipun ia tidak memiliki bidang keahlian yang sama dengan mahasiswa bimbingannya, jika ia bisa membimbing dengan baik, maka mahasiswa tidak perlu risau. Toh mahasiswa riset dituntut untuk bisa mandiri, mencukupi segala kebutuhan risetnya secara independen.

Pemilihan supervisor dimulai dengan window shopping ke HP dosen-dosen yang memiliki bidang keahlian sejenis dan berminat pada topik riset yang ingin kita lakukan. Setelah nama calon-calon pembimbing ini terkumpul, kita bisa mulai mengirimkan email perkenalan. Isinya perkenalan tentang diri kita, tujuan kita untuk melanjutkan studi, topik riset yang akan dikerjakan, serta keinginan untuk dibimbing oleh dosen yang bersangkutan. Jika sang dosen berminat, ia akan membalas email kita secara positif. Setelah ini, komunikasi via email dapat diintensifkan, misalnya dengan lebih mempertajam fokus riset dan mencari kesamaan titik pandang dengan sang calon supervisor. Jika memungkinkan, proses ini dilanjutkan sampai kedua pihak puas tentang deskripsi topik riset, tapi umumnya si dosen tidak mau membuang terlalu banyak waktu “meladeni” diskusi tentang topik riset ini, karena belum ada jaminan bahwa si mahasiswa akan diterima di universitas tersebut dan bekerja di bawah bimbingannya. Apapun yang terjadi, setelah kita mendapatkan sinyal positif dari calon pembimbing, kita bisa meminta letter of reference yang menjelaskan bahwa sekiranya kita diterima di universitas tersebut, dia bersedia menjadi pembimbing kita dengan topik yang telah disetujui bersama. Surat ini juga bisa kita lampirkan dalam berkas aplikasi beasiswa kita.

Memilih supervisor juga harus mempertimbangkan jabatan dia dalam department, fakultas, atau universitas. Profesor yang terkenal, misalnya karena reputasinya yang hebat, cenderung sibuk sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuk para mahasiswanya. Jika kita termasuk tipe mahasiswa yang cenderung tidak mandiri, jangan pilih pembimbing tipe ini. Sebaliknya jika kita cukup yakin akan mampu lebih banyak bekerja sendiri, arahan-arahannya dapat langsung membawa kita ke state-of-the-art dalam topik riset kita. Sebaliknya, dosen yang “biasa-biasa saja” biasanya tidak terlalu sibuk dengan urusan administratif dan eksternal lainnya, tetapi kita jangan terlalu menuntut terlalu banyak dari mereka. Lihatlah HP pribadi dosen-dosen ini, dan selidikilah jabatan apa yang mereka miliki (termasuk juga proyek-proyek apa yang sedang mereka kerjakan). Dikotomi di atas juga berlaku untuk dosen di universitas besar vs dosen di universitas kecil.

Link-Link Bermanfaat
Link Keterangan
Beasiswa ADS AusAid, Jakarta Situs resmi AusAid yang berisi segala informasi yang relevan dengan beasiswa ADS AusAid
Daftar universitas di Australia Informasi tentang universitas di Australia: nama, alamat, contact person, dan HP

Penutup
Beberapa hari sebelum artikel ini ditulis, penulis mendapatkan beberapa email tentang proses lamaran beasiswa AusAid. Email-email yang intinya sama ini membuat penulis berpikiran untuk lebih baik menulis artikel tentang serba-serbi AusAid dan pencarian sekolah di Australia, kemudian disebarkan via HP untuk lebih praktisnya. Artikel ini ditulis hanya dalam waktu 2 hari, sehingga mungkin saja ada detil yang terlewatkan. Untuk itu jika para pembaca menemukan hal-hal yang belum tercakup dalam artikel ini, silakan mengirimkan feedback ke alamat ini.
Akhirnya penulis berharap artikel ini dapat bermanfaat bagi para calon mahasiswa yang akan melanjutkan studi di Australia. Selamat berjuang!

*) Dosen Teknik Elektro, FT-UGM Yogyakarta, Pengelola Magister Teknologi Informasi UGM, dan alumnus program S3 dalam bidang Computing di School of Computer Science and Software Engineering, Monash University, Australia

Juli 21, 2008 - Posted by | beasiswa s2, beasiswa s3, luar negeri

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: