Info Beasiswa S1 S2 S3

Beasiswa Scholarships Dalam Negeri Luar Negri

Aktifitas – Yayasan Supersemar

TERLAHIR MENGABDI, DAN MEMBANGUN

11 Februari 2005

Bediri 16 Mei 1974, dengan tujuan membantu Pemerintah didalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, Yayasan Supersemar ikhlas membantu serta membina siswa
dan mahasiswa yang cakap dan berbakat, namun kurang mampu
membiayai kelangsungan studinya.

“Saya mendirikan Yayasan-Yayasan. Itu masih ada hubungannya dengan tugas sebagai Presiden/Mandataris, yakni menggerakkan kemampuan pemerintah dan kemampuan masyarakat. Saya himpun segala kekuatan yang ada. Jelas bagi saya bahwa tidak seluruh masalah bisa ditangani oleh pemerintah,” kata HM Soeharto.

Pembangunan di sektor pendidikan merupakan hal sangat penting. Tanpa pendidikan dunia dan bangsa ini tidak seramai seperti sekarang, serba maju, canggih dan modern. Pendidikan telah mampu mengubah kemajuan olah pikir manusia melalui berbagai ilmu yang diserapnya sehingga mampu mengubah suasana. Kemajuan cara berpikir yang sejalan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan manusia sangat berguna bagi pembangunan bangsa guna mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Latar belakang

Suasana pembangunan berencana lima tahun di awal Orde Baru yang lebih dikenal dengan sebutan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) menghangatkan negeri. Pola ini menggantikan Rencana Pembangunan Semesta Delapan Tahun (l959-l967) yang dicanangkan pemerintahan sebelumnya (Orde Lama) dalam Sidang Depernas tanggal 28 Agustus 1956.

Gegap gempita pada Pelita I memang membawa hasil. Tentunya sebatas kemampuan negeri saat itu. Sebagai gambaran penerimaan dalam negeri tahun 1973/1974 baru sebesar Rp 967,7 miliar yang berarti terjadi kenaikan sebesar Rp377,1 miliar atau 63,9% dibandingkan realisasi penerimaan dalam negeri pada tahun l972/1973 yang hanya sebesar Rp590,6 miliar. Di dalam tahun l974/1975, penerimaan dalam negeri direncanakan sebesar Rp.1.363,4 miliar tetapi realisasi mencapai jumlah Rp1.753,7 miliar. Dibandingkan dengan tahun l973/l974, realisasi penerimaan dalam negeri tahun l974/1975 telah meningkat dengan Rp786,0 miliar atau 81,2%.

Kenaikan yang pesat ini terutama disebabkan oleh karena pesatnya perkembangan penerimaan pajak langsung, yang dalam tahun l974/1975 mencapai Rp1.228,7 miliar, jumlah ini telah melampaui jumlah yang dianggarkan dengan Rp361,3 miliar atau 41,7%.

Realisasi pengeluaran rutin dalam tahun 1974/1975 mencapai jumlah sebesar Rp1.016,1 miliar yang berarti meningkat dengan Rp302,8 miliar atau 42,5% dibandingkan dengan tahun 1973/1974 sebesar Rp713,3 miliar. Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan pada belanja pegawai, belanja barang dalam negeri, dan subsidi daerah otonom.

Kenaikan pengeluaran rutin yang begitu pesat dalam tahun 1974/1975 adalah sesuai dengan kebijakan pemerintah, yakni pertama secara bertahap memperbaiki gaji pegawai negeri serta meningkatkan mutu pegawai agar dapat melaksanakan tugasnya secara lebih berdaya guna dan berhasil guna. Kedua, untuk meningkatkan mutu dan jumlah pelayanan Pemerintah kepada masyarakat. Ketiga, meningkatkan pemeliharaan kekayaan negara yang setiap tahun semakin bertambah sebagai akibat dari pembangunan.

Lalu bagaimana dengan kondisi kualitas bangsa ditinjau dari sudut pendidikan saat itu? Pendidikan sebagai pilar utama peningkatan kualitas bangsa cukup diperhatikan. Paling tidak saat itu, pada tahun l974, dibangun 6.000 Sekolah Dasar (SD) Inpres, meningkatkan mutu 1000 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari 1..427 SMP yang ada saat itu, melengkapi 200 SMA dari 421 SMA yang ada saat itu. Sedang Perguruan Tinggi yang berjumlah 29 semakin dikembangkan.

Untuk percepatan pembangunan Pemerintah mengembangkan gerakan partisipasi masyarakat disegala sektor kehidupan. Tidak terkecuali sektor peningkatan kualitas sumber daya penduduk termasuk kemajuan pendidikan anak bangsa.

Pembangunan di sektor pendidikan merupakan hal sangat penting. Seperti banyak dikatakan bahwa tanpa pendidikan kemungkinan dunia dan bangsa ini tidak seramai seperti sekarang, serba maju, canggih dan modern. Pendidikan telah mampu mengubah kemajuan olah pikir manusia melalui berbagai ilmu yang diserapnya sehingga mampu mengubah suasana. Kemajuan cara berpikir yang sejalan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan manusia sangat berguna bagi pembangunan bangsa.
Tidak salah jika dikatakan pendidikan itu tak ubahnya seperti obor, ia menjadi penerang bagi kegelapan dunia. Barangkali itu sebabnya pendidikan menjadi sangat penting bagi dunia dan juga bangsa Indonesia. Terlebih di era bergulirnya roda pembangunan nasional guna mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Di tengah semangat dan bergairahnya anak-anak bangsa ingin ikut serta ambil peran dalam pembangunan, ternyata tidak sedikit pula dari mereka harus rela menjadi penonton, dan bukan menjadi pelaku.

Berbagai hal telah menyebabkan banyak pelajar dan mahasiswa putus sekolah. Penyebab umumnya antara lain karena ekonomi keluarga tidak menunjang sehingga mengakibatkan kekurangan biaya, baik karena penghasilan orang tua yang ternyata tidak cukup maupun yang bersangkutan yatim piatu.

Masalah putus pendidikan sangat memprihatinkan, karena pembangunan yang sedang dihayati bangsa dan rakyat Indonesia sangat memerlukan banyak tenaga ahli dan tenaga berkualitas di semua bidang.

Gagasan mulia

Memang telah banyak yayasan, perusahaan, badan-badan sosial dan dermawan yang memberi bantuan kepada pelajar dan mahasiswa yang kurang mampu. Akan tetapi belum semua pelajar dan mahasiswa yang memerlukan bantuan tersantuni.

Atas inisiatif dan dorongan Bapak Soeharto, ketika tahun 1974 masih menjadi Presiden Republik Indonesia, sejumlah dermawan tergerak untuk menyisihkan sebagian uangnya guna untuk turut berbakti dalam membantu siswa dan mahasiswa yang kurang mampu.

“Saya mendirikan Yayasan-Yayasan. Itu masih ada hubungannya dengan tugas sebagai Presiden/Mandataris, yakni menggerakkan kemampuan Pemerintah dan kemampuan masyarakat. Saya himpun segala kekuatan yang ada. Jelas bagi saya bahwa tidak seluruh masalah bisa ditangani oleh Pemerintah,” kata Bapak Soeharto.

Sangat jelas jika gagasan berdirinya Yayasan Supersemar bertolak dari pemikiran bahwa persoalan pendidikan merupakan masalah yang harus ditanggulangi bersama antara orang-tua, masyarakat, dan Pemerintah. Banyak anak muda Indonesia yang memiliki kemampuan intelektual, namun keadaan orang tuanya kurang mendukung kelangsungan pendidikan formal yang tengah ditekuninya. Padahal, apabila mereka mendapatkan kesempatan sama dengan anak-anak dari keluarga berkecukupan akan mampu berkembang, dan pada gilirannya menjadi SDM berkualitas untuk modal bagi pembangunan bangsa. Mereka itu merupakan SDM terdidik. Uluran tangan dari orang atau lembaga penyandang dana tentulah sangat berarti, setidaknya membantu bagi upaya mengatasi keadaan.

Di era hingar bingar bangkitnya partisipasi masyarakat di akhir Pelita I (1969/l970-1973/1974) Yayasan Supersemar lahir. Tepatnya tanggal 16 Mei 1974. Selaku pribadi, meski saat itu menjadi Presiden Republik Indonesia, terpanggil untuk membantu Pemerintah mengatasi problema yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia. Pengalaman memimpin Yayasan Beasiswa Yatim/Piatu Trikora yang memberikan beasiswa bagi putra-putri pejuang “Trikora” dan “Dwikora” cukup menjadi bekal baginya untuk mendirikan sebuah yayasan beasiswa yang bersifat lebih umum dan lebih luas jangkauan santunannya.

Nama dan makna

Melalui segala persiapan yang matang, pada tanggal 16 Mei 1974 yayasan dimaksud pun didirikan. Maka bertambah lagi sebuah yayasan beasiswa di Indonesia yang dipimpin Bapak Soeharto, dan siap berkiprah bersama-sama dengan lembaga atau yayasan lain yang sudah ada dalam membantu Pemerintah. Yayasan ini dinamakan Yayasan Supersemar.

Dengan berdirinya Yayasan Supersemar menandakan pula himbauan Bapak Soeharto kepada para pengusaha dan dermawan untuk turut peduli terhadap nasib pendidikan nasional tidaklah sia-sia. Kehadiran Yayasan Supersemar pun mendapat sambutan hangat, dan dengan penuh keikhlasan serta kesadaran para dermawan menyisihkan sebagian keuntungan dari hasil usahanya untuk ikut disalurkan melalui Yayasan Supersemar. Hal ini tak lain karena percaya akan itikad baik dan kepemimpinan Bapak Soeharto. Maka dalam tempo relatif singkat terkumpul dana satu miliar rupiah.

Melihat respon menggembirakan, Ketua Yayasan Supersemar mengundang para rektor perguruan tinggi negeri ke Jakarta guna membahas pelaksanaan beasiswa Yayasan Supersemar. Berkat dukungan, masukan, dan kepedulian mereka yayasan ini sejak awal berdiri hingga sekarang terus mengalokasikan bantuan berupa beasiswa pendidikan.

Mengapa dipilih “Supersemar” untuk nama Yayasan ini? Yang jelas bukanlah tanpa alasan. Alasan nama yang dijadikan trade mark Yayasan ini disampaikan oleh pendirinya langsung di depan para rektor se-Indonesia, di Bina Graha pada 27 Juli 1974. Di pertemuan dengan para Rektor tersebut Bapak Soeharto menjelaskan bahwa Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret Tahun 1966) mempunyai arti penting didalam proses tegaknya Orde Baru, yakni orde yang melaksanakan koreksi total terhadap kesalahan di masa lalu, dan seterusnya bertekad melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, yang berarti pula suatu perjuangan yang tidak kecil dalam upaya meningkatkan kecerdasan rakyat Indonesia.

Perihal digunakannya gambar tokoh wayang Semar sebagai latar belakang surat-surat Yayasan Supersemar juga tidak bertentangan dengan maksud dan tujuan yayasan ini. Sebab, Semar yang kita kenal sebagai punakawan di dunia wayang adalah pengejawantahan dari Batara Ismaya yang kemudian menjelma menjadi Semar yang mempunyai tugas untuk mengasuh atau membimbing atau “ngemong” kepada satria yang mempunyai kejujuran maupun juga berani membela kebenaran, dan berbeda dengan si Togog yang selalu hanya mengabdi kepada orang yang bersifat angkara murka. Jadi, ditinjau dari singkatan maupun juga harfiah namanya tidaklah bertentangan dengan maksud dan tujuan Yayasan Beasiswa Supersemar tersebut.

Sesuai dengan apa yang telah direncanakan, maka dipilih pengurus Yayasan Supersemar tersebut yang terdiri dari 11 orang, ini pun secara simbolis karena namanya 11 Maret, sehingga pengurusnya sementara juga 11 orang. Karena angka 11 ini merupakan angka peling (dalam bahasa Jawanya) artinya memperingatkan supaya selalu “eling” kepada tujuan dan maksud yang semula. Dengan mengambil hikmah dari dua hal tersebut, diharapkan Yayasan Supersemar akan mampu menyumbangkan darma dan baktianya kepada bangsa dan negara dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sosialisasi awal lewat Rektor

Kemudian untuk menyosialisasikan gagasan brilian pemberian beasiswa melalui Yayasan Supersemar dilakukan melalui proses sosialisasi yang demokratis. Di antaranya dengan memaparkan gagasan tersebut ke berbagai kalangan termasuk Menteri P dan K dan para rektor selaku penanggung jawab pendidikan tertinggi pada setiap universitas maupun institut atas kelangsungan proses pendidikan di lingkungannya. Hal ini dilakukan Pendiri dalam Pertemuannya dengan para Rektor se-Indonesia dan Menteri P dan K, pada tanggal 27 Juli 1974, di Bina Graha, Jakarta.

“Saudara Menteri P dan K dan Saudara-Saudara para Rektor, pertama-tama, ingin saya sampaikan ucapan terima kasih atas kesediaan Saudara Menteri P dan K dan segenap para Rektor, yang telah memenuhi keinginan saya untuk bertemu muka pada pagi hari ini. Pertemuan secara langsung pada pagi hari ini tidaklah semata-mata didasarkan atas kedudukan saya sebagai Presiden atau Kepala Negara, akan tetapi juga sebagai sesama warga negara Indonesia yang ingin sejauh mungkin berusaha menanggapi gelora usaha pembangunan nasional kita yang sekarang ini sedang kita lakukan dan bahkan akan terus kita lakukan dalam rangka kita mencapai cita-cita perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia, ialah masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila,” katanya.

Kita telah sama-sama mengetahui, sambung Bapak Soeharto, bahwasanya tujuan daripada pembangunan maupun juga perjuangan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Bahkan tidak hanya itu, juga tersirat di dalam UUD 1945, bahwa kita harus berusaha untuk dapat meningkatkan kecerdasan rakyat Indonesia itu. Sedangkan kita mengetahui, bahwasanya meningkatkan kecerdasan rakyat dengan sendirinya juga antara lain melewati pendidikan.

Dari usaha pendidikan, Pemerintah tentu belum mampu untuk dapat memikul segala biaya maupun beban, sekalipun itu dapat dikatakan menjadi hak dari setiap warga negara untuk memperoleh dan menuntut pendidikan sesuai dengan keinginan maupun tingkat kecerdasan mereka.

Namun Pemerintah tentu tidak mungkin dan belum mungkin mewujudkan semua keinginan demikian itu. Dalam rangka pendidikan nasional untuk kecerdasan rakyat, meningkatkan sebagaimana berulang-ulang dikatakan bahwasanya masalah pendidikan merupakan masalah nasional yang harus dipikul oleh Pemerintah, masyarakat, pun juga oleh lingkungan keluarga itu sendiri. Karena itu wajarlah bagi kita yang mengetahui, karena nyata bahwa diantara putra-putri dan pemuda-pemudi Indonesia yang sebenarnya mempunyai kepandaian, mempunyai kecerdasan, akan tetapi karena orang tuanya belum mampu sehingga tidak bisa meneruskan pendidikannya.

Dalam kehidupan sesuai tuntutan filsafah yang kita anut yakni Pancasila, yakni mengenai kegotongroyongan di antara yang mampu dengan yang tidak mampu, kiranya wajar bilamana masyarakat itu kita kerahkan, terutama bagi mereka yang mampu untuk turut memikirkan mereka yang kurang mampu, yang sebenarnya bilamana diberi kesempatan akan memberikan sumbangan besar bagi kelangsungan hidup negara dan bangsa. Karena itulah tergugah oleh keadaan yang demikian dan kewajiban kepada masyarakat, Bapak Soeharto ingin menggunakan kepercayaan sebagian masyarakat, maupun teman-teman lainnya, di samping tentunya ada yang kurang senang, akan tetapi jelas juga ada yang menyukai usaha ini dalam menghimpun kekuatan bersama-sama dengan masyarakat untuk dapat memenuhi kekurangan yang dirasakan oleh Pemerintah, agar kehidupan kegotongroyongan dalam masyarakat, terutama untuk membantu mereka yang kurang mampu ini benar-benar bisa, kita telah mengetahui bahwasanya telah banyak diusahakan adanya badan-badan sosial yang menggarap masalah ini, kiranya juga tetap bisa berjalan, bisa dikembangkan, tidak perlu badan yang baru itu menyaingi badan-badan yang ada. Persoalannya memang kita harus menghimpun sebesar mungkin kemampuan masyarakat untuk turut menangani kebutuhan, khususnya dalam membantu hal pendidikan tersebut.

Susunan Pengurus dan modal awal

Pada kesempatan pertemuan dengan para Rektor, Pendiri mengumumkan susunan pengurus Yayasan Supersemar. Dijelaskannya, Pengurus terdiri daripada Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Anggota. “Saya memberanikan diri sebagai Ketua,” katanya gagah dan penuh tangungjawab.

Selanjutnya jabatan Sekretaris Yayasan dipercayakan kepada Bardosono dan Arjodarmoko (baca: Aryodarmoko), sedangkan Bendahara Sudjarwo dan Ali Affandi, dan anggotanya Dr. Ibnu Sutowo, Prof. Dr. Ir. Toyib Hadiwidjaja, Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, Sudharmono, SH., dan dua anggota lainnya diambil dari unsur Pemerintah.

Penunjukan pengurus tersebut tujuannya agar komunikasi antara Yayasan sebagai badan sosial swasta ini dengan Pemerintah, yakni Departemen P dan K dan Departemen Dalam Negeri berjalan lancar. Hal ini didasarkan karena pemberian beasiswa tersebut tidak hanya kepada mahasiswa akan tetapi juga kepada siswa kejuruan. Dengan demikian tidak hanya mahasiswa agar menjadi sarjana, akan tetapi kepada siswa yang berminat agar diarahkan kepada pendidikan fak atau kejuruan yang memang sangat dibutuhkan.

Di samping itu, memang dalam akta Yayasan juga sudah bisa dipelajari, bahwasanya kemungkinan adanya anggota kehormatan. Anggota di sini memang tentunya ada persyaratan-persyaratan siapa yang akan menjadi anggota kehormatan ini, yaitu mereka yang sekiranya memberikan tanggapan positif terhadap berdirinya Yayasan Supersemar tersebut, dengan sumbangan yang tidak kecil, artinya dengan ketentuan misalnya Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) baru diangkat sebagai anggota kehormatan Yayasan Supersemar tersebut tetapi kalau Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dengan sendirinya tidak, tetapi dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) barulah diangkat sebagai anggota kehormatanYayasan Supersemar tersebut.

Pada kesempatan pertemuan di awal berdirinya Yayasan Supersemar itu disampaikan oleh Pendiri bahwa dengan modal dasar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) Yayasan telah berhasil mengumpulkan Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) saat itu, dan akan dimasukkan deposito jangka panjang di Bank dengan bunga 2,5% tiap bulan, berarti tiap-tiap bulan kita sudah bisa menyediakan minimal Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) untuk dana Beasiswa, dari bunga yang satu miliar itu. Sebab kalau memang kita, nanti “nggerogoti” sumber pokoknya, maka pada suatu saat akan habis, tetapi kalau sementara dalam penyusunan dana yang sekarang Rp1.010.000.000,00 ini kita masukkan dalam Bank dan bunganya masih tetap tinggi (2,5 %). Kalau deposito 2 tahun, berarti dalam 2 tahun sudah jelas tidak akan berubah sebab andaikata nanti bunga turun tokh tetap selama 2 tahun itu menerima 2,5%. Kalau kenyataan nantinya bunga diturunkan bisa memberikan effecten lainnya yang memang bisa menjamin penghasilan uang tersebut.

Dan Bapak Soeharto yakin karena menurut pendiriannya banyak pula yang ingin mendaftarkan untuk menjadi anggota kehormatan. Kalau ada sepuluh saja berarti Rp100.000.000,00 kali 10 jadi jumlahnya menjadi Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) lagi tambahnya modal Yayasan tersebut.

Mekanisme pemberian

Yayasan ini dimaksudkan sebagai mitra Pemerintah. Perihal persyaratan beasiswa, jelas yang bisa mengetahui cerdas dan tidaknya mahasiswa maupun murid tentunya guru yang bersangkutan, dan bukan Yayasan itu. Oleh karena itu perlu dijalin hubungan dengan Departemen P dan K. Mahasiswa yang diusulkan oleh Rektor untuk menerima beasiswa Supersemar diharapkan benar-benar anak yang pandai, cakap tetapi mengalami kesulitan di dalam mengatasi biaya pendidikan.

Umpamanya, syarat umum yang ditentukan oleh Yayasan adalah mahasiswa Pancasilais, tentunya agar jangan sampai memberikan beasiswa kepada orang-orang yang akan menentang Pancasila. Kemudian jelas pandai, cakap dan juga sehat, rajin belajar, berbakat dan juga berkelakuan baik. Kemudian tentunya ada persyaratan-persyaratan khusus serta ditambah persyaratan bahwa mereka sanggup memenuhi peraturan-peraturan Yayasan.

Kriteria persyaratan beasiswa Supersemar pada dasarnya sudah menampung usulan-usulan para rektor pada waktu itu. Oleh karenanya, para rektor juga harus bertanggung jawab atas akurasi data mahasiswa yang diusulkannya untuk menerima beasiswa Supersemar.

Maksud dan tujuan

Yayasan Supersemar resmi berdiri sebagai wujud kepedulian dalam membantu meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan. Yayasan ini selain bersifat sosial dalam kegiatan operasionalnya, juga berasaskan Pancasila dan UUD1945 serta memiliki maksud dan tujuan.

Maksud dan tujuan dirikannya Yayasan Supersemar untuk membantu/membina siswa dan mahasiswa yang cakap dan berbakat, yang kurang mampu membiayai kelangsungan studinya. Yayasan bertujuan membantu Pemerintah di dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dan modal yang diperoleh Yayasan untuk menjalankan dan sekaligus mendanai pemberian beasiswa Supersemar itu diperoleh dari pendiri Yayasan Supersemar sebagai modal dasar serta sumbangan para dermawan/masyarakat yang sifatnya tidak mengikat dan usaha-usaha lain yang sah dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Syarat Calon Penerima

Yayasan dalam memberikan beasiswa Supersemar kepada pelajar SMTA kejuruan negeri dan mahasiswa perguruan tinggi negeri/swasta yang memenuhi persyaratan, seperti pandai berjiwa Pancasila, berbakat sehat jasmani dan rohani, rajin belajar dari keluarga yang tidak/kurang mampu, dan berkelakuan baik.

Sedangkan cara mengajukan permohonan beasiswa, calon mengajukan permohonan melalui kepala sekolah atau pimpinan perguruan tinggi negeri/swasta yang bersangkutan. Selanjutnya permohonan diseleksi oleh kepala sekolah atau pimpinan perguruan tinggi negeri/swasta sesuai dengan persyaratan dan jumlah calon penerima beasiswa yang telah ditetapkan oleh Yayasan Supersemar.

Calon yang dinyatakan lulus seleksi mengisi formulir permohonan beasiswa yang disediakan oleh Yayasan Supersemar. Formulir permohonan yang telah diisi lengkap sesuai dengan petunjuk, dikirim ke Kantor Yayasan Supersemar secara kolektif.

Beasiswa yang diberikan Yayasan Supersemar, yaitu beasiswa kepada pelajar Sekolah Menengah Tingkat Atas kejuruan negeri, mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri, dan mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta, bantuan pembinaan bagi olahragawan dan pelatih olahraga yang berprestasi, bantuan santunan bagi anak asuh sekolah dasar dalam rangka partisipasi untuk menyukseskan program wajib belajar. Serta dana penelitian, sebagai partisipasi bantuan kepada staf pengajar atau dosen dan para peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, khususnya yang menjalani studi jenjang pasca sarjana. Bantuan terbatas berupa alat bantu pengajaran atau sarana pendidikan kepada perguruan tinggi.

SMTA kejuruan negeri penerima beasiswa Supersemar di antaranya, SGPLB (Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa), SKMA (Sekolah Kehutanan MenengahAtas), SMEA (Sekolah Menengah EkonomiAtas), SMIK (Sekolah Menengah Industri Kerajinan), SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia), SMM (Sekolah Menengah Musik), SMPS (Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial), SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa), SMTK (Sekolah Menengah Teknologi Kerumahtanggaan), SPP (Sekolah Pertanian Pembangunan), dan STM (SekolahTeknologi Menengah).

Tiga Dasawarsa Pengabdian

Pada awal berdirinya, tanggal 16 Mei 1974 sampai dengan tanggal 31 Juli 1982, Yayasan Supersemar menempati dua buah ruangan di lantai 2 Bina Graha, Jalan Veteran No. 14, Jakarta Pusat. Tanggal 1 Agustus 1982, Yayasan Supersemar pindah ke gedung Hanurata Graha Lantai 5, Jalan Kebon Sirih 67-69, Jakarta Pusat, dan menempati gedung tersebut sampai dengan tanggal 24 Januari 1993.

Sejak tanggal 25 Januari 1993, Yayasan Supersemar menempati kantor barunya di Gedung Granadi Lantai 4, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 8-9, Jakarta Selatan, hingga sekarang.

Dasawarsa Pertama (1974-1984)

Tahun 1975 Yayasan Supersemar mulai memberi beasiswa pertama kali pada tahun 1975, kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri di Indonesia yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Beasiswa diberikan kepada 3.135 orang. Besar uang beasiswa per mahasiswa saat itu adalah: (a) Rp15.000,00 (lima belas ribu rupiah), di Jakarta; (b) Rp12.500,00 (dua belas ribu lima ratus rupiah), di Bogor, Bandung, Surabaya, dan ibu kota provinsi di luar Pulau Jawa (kecuali Palangkaraya); (c) Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah), di Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Malang, Palangkaraya; dan (d) Rp8.000,00 (delapan ribu rupiah) untuk Purwokerto dan Jember.

Tahun 1976 Yayasan mulai menjangkau beasiswa untuk siswa SMTA kejuruan negeri. Pada tahap ini, STM (Sekolah Teknik Menengah) mendapat giliran yang pertama, yaitu 667 siswa. Beasiswa untuk pelajar berkisar dari Rp5.500,00 sampai dengan Rp6.500,00 per bulan.

Tahun 1977 beasiswa diperluas lagi kepada para siswa SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) negeri. Sejumlah 524 siswa SMEA menerima beasiswa.

Tahun 1978 disamping pemberian beasiswa di atas, Yayasan mulai memberi beasiswa untuk mahasiswa IAIN (Institut Agama Islam Negeri) se-Indonesia. Untuk tahap pertama diberikan beasiswa kepada 92 mahasiswa di 14 IAIN.

Mulai awal tahun kuliah 1978, beasiswa kepada mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto dan Universitas Jember di Jember yang semula Rp8.000,00 dinaikkan menjadi Rp10.000,00 per bulan. Kenaikan ini sesuai dengan permohonan rektor yang bersangkutan.

Pada bulan November 1978, Yayasan Supersemar menerbitkan buletin dengan nama Berita Berkala (keluarga) Yayasan Beasiswa Supersemar disingkat BB-YBS, dengan oplah 5.000 eksemplar, dibagikan cuma-cuma kepada para penerima beasiswa, terutama mahasiswanya. Buletin ini terbit tiga bulan sekali.

Tahun 1979 mulai tanggal 1 Juni 1979, beasiswa untuk para mahasiswa mengalami perubahan. Untuk penerima beasiswa di Jakarta, Ujungpandang, dan Medan masing-masing menerima Rp15.000,00 per bulan. Sedangkan mahasiswa di luar wilayah tersebut masing-masing menerima Rp12.500,00 per bulan.

Sementara itu, pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga diberikan tambahan beasiswa baru untuk SMM (Sekolah Menengah Musik), SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa), SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia), SMIK (Sekolah Menengah Industri Kerajinan), dan SMPS (Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial).

Atas inisiatif para mahasiswa penerima beasiswa Supersemar Universitas Brawijaya, Malang, pada akhir Maret 1979 diselenggarakan Musyawarah Nasional Pertama bagi para penerima beasiswa Supersemar. Musyawarah berhasil membentuk Pengurus Pusat Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar (KMAPBS) sebagai wadah untuk menampung para penerima beasiswa Supersemar.

Tahun 1980 sesuai dengan usul Ketua Umum KONI, kepada para olahragawan yang berpotensi diberikan beasiswa Supersemar, guna merangsang peningkatan prestasinya. Untuk tahap pertama telah diberikan bantuan beasiswa kepada 65 atlet di cabang olahraga atletik, renang, tinju, senam, dan gulat. Sementara itu, ada penambahan beasiswa baru untuk siswa SMTK (Sekolah Menengah Teknologi Kerumahtanggaan), SMKK (Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga), SPG (Sekolah Pendidikan Guru), dan SGPLB (Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa). Pada tahun ini pula dimulai kerja sama dengan Departemen Pertanian dalam hal pemberian beasiswa kepada para siswa SPP (Sekolah Pertanian Pembangunan). SPP ini merupakan fusi dari dua bentuk sekolah, yaitu SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) dan Snakma (Sekolah Peternakan Menengah Atas).

Tahun 1981 mulai periode tahun 1981/1982, beasiswa untuk mahasiswa di Jakarta, Medan, Ujungpandang, Bandung, Denpasar, dan Jayapura (untuk selanjutnya disebut Rayon A) dinaikkan menjadi Rp.17.500 perbulan. Selain di kota-kota tersebut (selanjutnya disebut Rayon B) masing-masing mahasiswa penerima beasiswa Supersemar mendapatkan Rp15.000,00 per bulan. Pada tahun tersebut, lewat Direktorat Pergurunan Tinggi Swasta-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pertama kali diberikan beasiswa kepada 200 mahasiswa di perguruan tinggi swasta, yang pengusulan dan pelaksanaannya diatur oleh Pimpinan PTS dan Kopertis yang bersangkutan. Catatan bagi pelaksanaan beasiswa untuk SMTA, tahun ini ditekankan pada calon guru Sekolah Dasar, sehingga jumlah beasiswa pada SPG kelihatan menonjol. Beasiswa yang semula berkisar dari Rp5.500,00 sampai dengan Rp6.500,00 per bulan naik menjadi Rp7.000,00 untuk setiap penerima beasiswa di semua wilayah.

Oplah buletin (BB-YBS) yang semula 5.000 eksemplar, kini naik menjadi 7.500 eksemplar. Sementara itu, kepengurusan Yayasan juga mengalami sedikit perubahan. Hadir dua wajah baru, masing-masing Drs. Moerdiono menggantikan Bardosono sebagai Sekretaris I, dan Ali Said, S.H. menggantikan Dr. Ibnu Sutowo sebagai anggota. Pergantian pengurus ini telah dikukuhkan dengan Akta Notaris Nomor 22, Tahun 1982.
Tahun 1982, tepatnya awal bulan Agustus 1982, Yayasan yang semula beralamatkan Jalan Veteran 14, Jakarta Pusat, kini menempati sekretariat baru di Hanurata Graha Lantai V, Jalan Kebon Sirih 67-69, Jakarta Pusat. Sebulan kemudian, Bagian Keuangan meninggalkan Jalan Merdeka Barat 15, bergabung ke Hanurata Graha.

Semenjak menempati Sekretariat baru ini, beberapa siswa SMTA mulai berdatangan mengunjungi Yayasan, baik yang melaporkan kelulusannya maupun yang ditugasi oleh kepala sekolahnya mengantar bukti penerimaan beasiswa. Demikian pula para mahasiswa (penerima beasiswa Supersemar) yang sedang menyelenggarakan studi perbandingan atau widyawisata, tak jarang berkunjung ke Yayasan.

Sementara itu, para alumni mulai pula banyak yang bersilaturahmi ke Yayasan. Sehubungan dengan makin banyaknya dosen yang meneruskan pendidikan ke jenjang studi pascasarjana, mulai berdatangan mereka itu ke Yayasan, menanyakan kemungkinan mendapatkan bantuan dana dari Yayasan.

Tahun 1983 dalam rangka menunjang keberhasilan program Pemerintah di bidang keluarga berencana, Yayasan Supersemar bekerja sama dengan BKKBN Pusat menyediakan beasiswa kepada para peserta KB Lestari bagi anak-anaknya yang bersekolah di SMTA kejuruan dan keguruan negeri.

Beasiswa lewat jalur BKKBN ini tidak mengurangi alokasi beasiswa yang ada pada sekolah-sekolah yang bersangkutan. Selama periode tahun 1983/1984 diberikan bantuan biaya pendidikan kepada 49 dosen yang melanjutkan studi ke jenjang pendidikan pascasarjana, juga bantuan biaya perjalanan ke luar negeri guna memenuhi undangan ke forum kongres atau seminar ilmiah. Bantuan ini diberikan sebagai realisasi dari usulan Rektor dan pertimbangan Dirjen Pendidikan Tinggi.

Ditahun 1984 hadir dua wajah baru dalam kepengurusan Yayasan, masing-masing Aswismarmo (Sekjen Depdagri) menggantikan Darjono dan Prof.Dr. Sukadji Ranuwihardjo (Dirjen Dikti) menggantikan Prof.Dr. Doddy Tisna A. Amijaya.

Karena situasi keuangan Yayasan memungkinkan, beasiswa bagi siswa SMTA yang semula Rp7.000,00 naik menjadi Rp10.000,00. Sedangkan untuk mahasiswa di Rayon A, yang semula memperoleh Rp17.500,00 kini mendapatkan beasiswa Rp25.000,00 per bulan. Bagi mahasiswa penerima beasiswa di Rayon B, yang semula mendapatkan Rp15.000,00 kini masing-masing memperoleh Rp20.000,00 per bulan.

Atas usul Menteri Agama, lewat Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, siswa-siswa PGA (Pendidikan Guru Agama) mulai mendapatkan alokasi beasiswa sebanyak 200 siswa.

Buletin Yayasan, BB-YBS, yang semula terbit dengan oplah 5.000 eksemplar naik menjadi 7.500 eksemplar. Sementara itu di Sekretariat Yayasan Supersemar, pada bulan November, hadir Sdr. Maruli T.H. Silitonga sebagai Kepala Sekretariat menggantikan Sdr. Saptoro yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pembina Taman Burung dan Museum Fauna Indonesia di Taman Mini.

Dasawarsa Kedua (1984-1994)

Mulai tahun 1985, Yayasan menyediakan dana bantuan untuk 20.000 anak asuh di Indonesia. Bantuan ini dimaksudkan untuk membantu program Pemerintah dalam hal menyukseskan Program Wajib Belajar.

Tahun 1986, Universitas Pattimura di Ambon, yang semula termasuk kategori Rayon B, atas usul rektornya dan pertimbangan Dirjen Dikti, disepakati oleh Rapat Pengurus masuk ke Rayon A. Sementara itu 5 perguruan tinggi negeri untuk pertama kalinya mendapatkan alokasi beasiswa dari Yayasan Supersemar. masing-masing: Universitas Tadulako (50), Universitas Haluoleo (50). Universitas Bengkulu (50), ASKI Surakarta (25), dan ASKI Padangpanjang (25).

Periode penerimaan beasiswa di perguruan tinggi mulai tahun 1986 mengalami pergeseran; yang semula berlaku 1 Februari sampai dengan 31 Januari, dirobah menjadi 1 April sampai dengan 31 Maret. Dalam hal ini, beasiswa periode tahun sebelumnya mengalami perpanjangan dua bulan. Hal baru lainnya ialah penyediaan beasiswa yang pertama kali untuk Provinsi Timor Timur. Sekolah yang menerima beasiswa tersebut ialah SMEA dan SPG.

Dalam rangka menunjang kegiatan yang bersifat sosial, Yayasan memberi beasiswa bagi putra-putri prajurit yang gugur di Timor Timur. Beasiswa ini disediakan bagi mereka yang duduk di SMTA kejuruan dan keguruan. disalurkan melalui Panti Asuhan Seroja. Selain itu, juga diberikan beasiswa kepada anak-anak petugas di daerah terpencil (penjaga suar atau penjaga gunung api). Sedangkan kepada anak-anak para pelaku Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta, yang bersekolah di SMTA kejuruan dan keguruan serta perguruan tinggi, disediakan beasiswa lewat Paguyuban Wehr Kreise III.

Tahun 1987, disetujui kenaikan beasiswa untuk SMTA, yang semula Rp10.000,00 per bulan, kini menjadi Rp12.500,00 per bulan. Perguruan tinggi di Pekanbaru beasiswanya menjadi Rp30.000,00 per orang per bulan. Kenaikan ini sehubungan dengan berubahnya status dari Rayon B menjadi Rayon A.

Sementara itu, buletin Yayasan (BB-YBS) terhitung mulai awal Juli 1987 naik oplahnya menjadi 11.000 eksemplar, tebal halaman yang semula 12 kini menjadi 20.

Mulai 1 April 1988, uang beasiswa perguruan tinggi naik. Bagi perguruan tinggi di Rayon A yang semula Rp30.000,00 per bulan menjadi Rp35.000,00 per bulan. Sedangkan di Rayon B yang semula Rp25.000,00 per bulan dinaikkan menjadi Rp30.000,00 per bulan. Bantuan beasiswa Supersemar yang bersifat umum pada periode 1988/1989 tercatat sebagai berikut: mahasiswa sebanyak 11.300, siswa SMTA sebanyak 20.918 orang, dan untuk anak asuh sejumlah 30.000 orang anak.

Sampai dengan akhir Maret 1989, penerima beasiswa Supersemar tercatat beasiswa umum diberikan bagi 81.754 orang mahasiswa, siswa 149.533 orang, beasiswa KB Lestari untuk 28.021 siswa, Olahragawan 1.931 orang, pelatih dan pembina olahraga 757 orang.

Pada tanggal 16 Mei 1989, Yayasan genap berumur lima belas tahun. Dalam rangka peringatan HUT tersebut, diselenggarakan tiga kegiatan, masing-masing Survei Pelaksanaan Beasiswa Supersemar, penerbitan buku Lima Belas Tahun Yayasan Supersemar, dan kegiatan sarasehan dengan Bapak Ketua Yayasan Supersemar.

Dasawarsa Ketiga Tahun 1994 –2004

Perjalanan sejak tahun 1994 besarnya jumlah beasiswa yang diberikan untuk pelajar dan mahasiswa baru mengalami kenaikan pada tahun 2002. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah penyesuaian dengan kebutuhan yang ditetapkan sesuai standar biaya pendidikan secara nasional.

Pada tahun 2002 mahasiswa Perguruan Tinggi yang memperoleh beasiswa sebanyak 28.840 mahasiswa dan 47.610 siswa SMK se-Indonesia. Selain itu ada 1.000 olahragawan dan pelatihnya mendapat bantuan biaya pembinaan, sedangkan melalui GN-OTA tercatat 60.280 siswa.

Besarnya beasiswa yang diberikan untuk tingkat mahasiswa yang tadinya Rp60.000,00 dinaikkan menjadi Rp70.000,00. Sementara bagi beasiswa SMK dinaikkan dari semula Rp25.000,00 menjadi Rp30.000,00. Sedangkan untuk anak asuh tingkat SD tetap Rp60.000,00 dan SLTP Rp90.000,00 per paket bantuan.

Yayasan selain memberi beasiswa juga memberikan pula bantuan biaya penulisan tesis atau disertasi untuk mahasiswa jenjang S2 dan S3. Bantuan ini diutamakan bagi tenaga pengajar/dosen perguruan tiggi negeri dan tenaga peneliti LIPI. Untuk tahun 2002 dialokasikan dana sebesar Rp1 miliar.

Yayasan Supersemar juga memberi bantuan bagi Rumah Sejahtera Anak Pengungsi (RSAP) Maluku Utara sebanyak 280 orang siswa yang terdiri dari 200 orang siswa SD dan 80 orang siswa SLTP. Selain itu, bantuan diberikan yayasan tidak sebatas uang tapi juga buku-buku bacaan dan peralatan penunjang pendidikan, seperti komputer dan lain sebagainya.

Memasuki tahun 2004, alokasi jumlah pembiayaan bantuan beasiswa Supersemar untuk siswa Sekolah Menengah Kejuruan dan Mahasiswa Perguruan Tinggi terpaksa dikurangi jumlahnya dibandingkan dengan alokasi beasiswa tahun 2003. Kebijaksanaan tersebut terpaksa dilakukan, disebabkan adanya penurunan jumlah dana anggaran yang diterima oleh Yayasan, sebagai akibat dari turunnya bunga Deposito Bank, yang semula sebesar 12 persen turun menjadi 6 persen per tahun. Sehingga jumlah penerima beasiswa untuk tahun 2004 mengalami penurunan hampir mencapai 50 persen dari jumlah sebelumnya.

Dalam mencapai usianya yang ke – 30 ini, telah cukup banyak bantuan beasiswa Supersemar yang diberikan kepada mahasiswa yang membutuhkan bantuan tersebut. Hampir meliputi seluruh perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta yang terakreditasi/diakui di wilayah Indonesia, menerima bantuan tersebut.

Demikian pula siswa-siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri, termasuk disini siswa Sekolah Menengah Kejuruan Taman Siswa dan Muhammadiyah juga menerima bantuan beasiswa Supersemar.

Disamping memberikan beasiswa yang bersifat umum tersebut, Yayasan Supersemar juga memberikan bantuan beasiswa yang bersifat khusus bagi siswa dan mahasiswa yang berasal dari keluarga Legiun Veteran RI, PEPABRI, putra-putri Irian Jaya, dan putra-putri Timor Timur sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Namun beasiswa untuk putra-putri Timor Timur tersebut sejak tahun 1999 dihentikan, karena wilayah tersebut berdasarkan keputusan dan ketetapan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada saat Pemerintahan Presiden BJ Habibie tidak lagi menjadi bagian dari wilayah Negara Kesatuan RI, tetapi telah merdeka menjadi negara Timor Leste.

Secara global, penyaluran beasiswa Supersemar dari tahun 1975 hingga tahun 2004 dapat dilihat dari tabel berikut:

>> Yuni Lestari, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Palembang
Memaknai Hidup Masa Depan
>> Agung Budi & Warsito mahasiswa Fakultas Pertanian Jurusan Ilmu Tanah UPN
BEASISWA SUPERSEMAR TEPAT WAKTU
>> Hendi Ferdiansyah dan Mohamad Giata, mahasiswa POLTEK Jember
MEMBANGUN KEMANDIRIAN MAHASISWA
>> Khomisah Julianur Firdaus, mahasiswa Fakultas Hukum UNEJ
MENCARI KETERANGAN KURANG MAMPU CUKUP BERBELIT
>> Sari Utami Putri, Siswi Kelas III Akuntansi 1 SMK Negeri 47 Jakarta Selatan.
Belajar Lebih Tenang
>> Parida Suryani, mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Inten Lampung
Pemacu dan Motivasi
>> Nurul Janna, Siswi SMK Negeri 1 Palembang
Kepedulian Yayasan Supersemar Sangat Mulia
>> Dwi Asni, Siswa SPP SPMA DKI Jakarta.
Ringankan Beban Raih Cita
>> Atik Untari, Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Berkah Beasiwa Supersemar Lolos dari Sangsi
>> Neneng Sandra, Mahasiswi Institut Pertanian Bogor (IPB)
Terpacu Mempertahankan dan Meningkatkan Prestasi

Juli 21, 2008 - Posted by | BEASISWA, beasiswa s1, dalam negeri

2 Komentar »

  1. Saya Sudarmanto, putera pejuang Pembebasan Irian Barat, Patu Suwaldi. Pendidikan S1 Teknik Sipil, S2 Penyuluhan Pembangunan.
    Mohon beasiswa S3 Ilmu Politik di UI.
    Infoka mohon dikirim ke alamat saya: sudarmantomsi@yahoo.com

    Komentar oleh Sudarmanto,ST,MSi | September 23, 2009

  2. informasikan beasiswa untuk siswa miskin

    Komentar oleh widjanarko | Mei 31, 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: