Info Beasiswa S1 S2 S3

Beasiswa Scholarships Dalam Negeri Luar Negri

Sekolah di Jepang

Sekolah di Jepang
Sekolah di Jepang (Bagian Pertama) Oleh Dr. Arief B. Witarto Rabu, 19 Oktober 2005 05:12:58 Sekolah di luar negeri terkesan “elit”. Apalagi di Jepang, negara dengan biaya hidup sangat tinggi. Belum lagi Jepang sebagai negara pilihan untuk studi di luar negeri masih “angker” dengan stereotip anggapan biaya tinggi, bahasa yang sulit dan sebagainya. Benarkah demikian? Dalam tulisan ini, penulis mengulas beberapa keuntungan memilih Jepang sebagai tempat belajar di tingkat Universitas baik program S1, S2 dan S3 serta kiat-kiat sukses menempuh studi sekaligus mencari kerja setelah itu. Tulisan di bagi menjadi dua bagian yaitu bagian pertama dengan fokus pada keunggulan memilih studi di Jepang dan kehidupan di kampus.

Sedangkan pada bagian kedua akan disampaikan tentang kiat-kiat hidup dan mencari kerja. Keuntungan memilih Jepang Keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) negara tujuan, sering menjadi salah satu alasan memilih tempat studi di luar negeri. Kemajuan perekonomian Jepang, tak disangkal berkat dukungan ipteknya yang canggih. Akan tetapi, Jepang tak jarang disebut sebagai “negara pengekor” dalam iptek karena lebih banyak mengembangkan iptek terapan yang dasarnya sudah dikembangkan di Amerika Serikat (AS) atau Eropa. Akan tetapi dengan terpilihnya para peneliti Jepang sebagai penerima Hadiah Nobel tiga tahun terakhir secara berturut-turut, setidaknya menghapus pandangan itu. Penelitian dasar maupun terapan di Universitas Jepang sangat beragam dengan dukungan dana yang besar baik dari Pemerintah maupun Swasta.

Apabila di Indonesia, produk riset terapan lebih dibutuhkan, maka Jepang adalah “gudang” penelitian seperti itu. Paten-paten internasional yang dimiliki Jepang lebih banyak yang berkaitan dengan teknologi terapan. Namun hal ini tidak berarti penelitian dasar kurang berkembang. Hadiah Nobel yang banyak diberikan kepada penelitian dasar, dari penghargaan tiga tahun terakhir itu, berhasil diraih oleh peneliti-peneliti Jepang dari penelitian di dalam negeri. Suasana dan kondisi belajar juga sering menjadi penentu dalam menentukan pilihan negara studi. Untuk masalah keamanan, Jepang adalah negara dengan tingkat kriminalitas sangat rendah dibanding AS atau negara-negara Eropa pada umumnya. Budaya timur yang masih kental di Jepang, memberikan suasana yang tidak jauh berbeda bagi mahasiswa Indonesia ketika hidup dalam masyarakat Jepang sehingga memudahkan beradaptasi. Bahasa Jepang yang sering jadi momok, bila dilihat dari kacamata berbeda, dapat memberikan nilai plus studi di Jepang. Mahasiswa S2 dan S3, tidak diharuskan menguasai bahasa Jepang karena dapat berkomunikasi maupun menyelesaikan thesis dengan bahasa Inggris.

Namun setidaknya, berbekal kursus singkat yang banyak disediakan gratis oleh Universitas maupun Pemda setempat, serta pergaulan sehari-hari, mereka mampu berbahasa lisan dengan baik. Untuk mahasiswa S1, selain kemampuan bahasa lisan juga diperlukan kemampuan membaca dan menulis bahasa Jepang. Memang untuk itu ribuan huruf Kanji dan tata bahasa yang berbeda dengan bahasa Inggris, harus dikuasai. Menurut pengalaman penulis, setengah sampai setahun kursus bahasa Jepang intensif ditambah dengan kuliah 1-2 tahun, cukup memberikan penguasaan secara baik. Kemampuan bahasa ini akan membuka peluang besar memahami berbagai ilmu pengetahuan maupun budaya Jepang karena bangsa ini telah mentransfer seluruh pengetahuannya dalam bentuk tulisan, buku dan sebagainya (Jepang adalah negara dengan pelanggan koran terbesar di dunia). Bagi alumnus Universitas Jepang, dengan ketiga keunggulan di atas yang berhasil diraih, kesempatan mencari kerja di Jepang maupun Indonesia, sangat terbuka. Jangan lupa, Jepang adalah negara dengan penanaman modal asing terbesar di Indonesia sehingga peluang bekerja di perusahaan maupun bisnis terkait dengan negara ini, sangat menjanjikan.

Kehidupan Kampus Untuk menyelesaikan program studi S1 di Jepang perlu waktu 4 tahun. Tiga tahun pertama adalah perkuliahan dan tahun terakhir mahasiswa diharuskan masuk ke lab salah seorang Professor yang ada dalam jurusan untuk membuat penelitian bagi thesisnya. Untuk program S2 yang memerlukan waktu normal 2 tahun, sepenuhnya mahasiswa berada dalam lab untuk melakukan penelitian dengan tambahan beberapa mata kuliah yang harus diambil. Dengan kerajinan dan ketekunan, hampir bisa dipastikan mahasiswa dapat selesai tepat waktu untuk S1 dan S2 ini. Program S3, mirip sistem di S2 tapi beban untuk penelitian lebih besar, dimana banyak jurusan di Universitas Jepang mewajibkan mahasiswanya menghasilkan publikasi ilmiah di jurnal internasional sebagai syarat kelulusan. Kadang, bila ada hambatan dalam penelitian menurut pengamatan penulis, lebih banyak karena kurang antisipasi kemajuan riset dan komunikasi dengan Professor pembimbing bisa menyebabkan waktu studi molor 1-2 tahun. Kewajiban publikasi ini nampaknya khas Jepang yang tak ditemui di Amerika/Eropa, walau terasa berat tapi bisa memberikan catatan dan pengalaman yang berharga bagi mahasiswa bagi bekal meniti karir setelah kelulusan. Peran Professor pembimbing sangat besar dalam membantu kelancaran studi dalam setiap jenjang.

Untuk itu, kiat utama dalam hal ini adalah mencari Professor dalam bidang yang diminati, yang paling cocok dalam kepribadian, sikap dan sebagainya. Untuk mahasiswa S1, sejak masa perkuliahan, bisa dengan mudah mencari informasi itu dari kakak kelas atau mencari langsung Professor dengan sifat-sifat seperti itu. Sementara bagi mahasiswa S2/S3 yang mencari dari Indonesia misalnya, ada beberapa ciri yang mungkin bisa jadi pegangan. Professor dengan pengalaman belajar atau penelitian di luar negeri, biasanya menjadi lebih terbuka dan respek terhadap orang asing mungkin karena pernah mengalami sendiri tinggal di negeri orang. Professor yang masih muda usia (40-an tahun), biasanya masih dalam awal karirnya sehingga dengan menjadi anggota labnya, kemungkinan mahasiswa ikut dipacu untuk banyak menghasilkan publikasi, paten dan karya ilmiah lainnya, walaupun konsekuensinya hal ini harus dibarengi dengan kerja keras.

Keuntungan lainnya, mahasiswa bisa mendapat bimbingan dan perhatian langsung dari Professor seperti ini karena masih banyak waktunya di lab. Sementara Professor yang lebih senior, menduduki berbagai jabatan di himpunan profesi maupun Pemerintahan, berpeluang besar memberikan banyak kemudahan mencari kerja dengan lobi-lobi yang dimilikinya serta fasilitas penelitian yang memadai. Akan tetapi, bimbingan langsung kepada mahasiswa relatif agak kurang karena kesibukan di luar labnya tersebut. Profil seperti ini bisa kita peroleh dari homepage Universitas, membaca jurnal-jurnal ilmiah, seminar dan sebagainya. Professor-professor yang hebat, tidak harus selalu berada di universitas-universitas besar. Yang sering disebut universitas besar itu adalah Tokyo University, Osaka University, Kyoto University, Kyushu University, Tohoku University, dan Hokkaido University untuk universitas negerinya dan Keio University serta Waseda University untuk universitas swastanya.

Tak pelak, dengan dana dan nama besar, universitas-universitas itu dapat mengumpulkan Professor-professor terpandang, namun tak jarang Professor “yang mendunia” berada di universitas negeri di daerah. Misalnya, pakar DNA chip Jepang adalah seorang Professor muda di Tokushima University di pulau kecil Shikoku, tokoh mikrobiologi vitamin ada di Yamaguchi University di ujung selatan pulau Honsyu, Professor senior yang disebut-sebut calon kuat penerima Hadiah Nobel Kedokteran berdomisili di Kobe University dan lain-lain. Jadi, jangan terpaku pada nama besar universitas yang hendak dipilih, tapi lihat dalam bidang yang diminati, Professor yang hebat berada di lokasi mana. Selain informasi dari internet, publikasi dan sebagainya, bila ada kesempatan bertemu langsung dengan Professor Jepang yang sedang dalam kunjungan ke Indonesia atau dalam pertemuan internasional, manfaatkan hal itu untuk berkenalan secara langsung.

Selain mengutarakan niat secara lisan, akan lebih berdampak nantinya, bila terlebih dulu mempersiapkan profil serta rencana penelitian dalam kertas. Komunikasi via e-mail maupun surat serta faksimil, akan juga berperan dalam keberhasilan mencari Professor pembimbing yang sesuai. Penggunaan bahasa Inggris yang baik, cukup tepat untuk komunikasi seperti ini, namun yang lebih penting adalah mengutarakan maksud korespondensi itu sejelas mungkin untuk menghindari kesalahpahaman. Beberapa uraian di atas, bermanfaat ketika dalam tahapan penelitian sebagai bagian dari penyelesaian studi. Untuk tahap perkuliahan, bagi mahasiswa S1, penting untuk mencari teman Jepang yang bisa membantu dalam masalah bahasa dan kadang penyelesaian tugas juga.

Walaupun kakak kelas orang Indonesia mungkin tidak selalu ada, saran dari mereka bisa dimintakan juga. Untuk program S2 dan S3, kebanyakan perkuliahan diujikan dengan membuat laporan daripada ujian tulis. Dalam hal ini, dengan permohonan kepada dosen pengajar, sering mahasiswa asing diperbolehkan membuat laporan dalam bahasa Inggris. Dr. Arief B. Witarto, Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI, alumni Tokyo University of Agriculture and Technology, serta mantan peneliti Japan Advanced Institute of Science and Technology. Sumber: BeritaIptek

Steel- 10-26-2005

Sekolah di Jepang (Bagian Kedua) Oleh Dr. Arief B. Witarto Jumat, 21 Oktober 2005 05:00:54 Pada begian kedua ini penulis akan menyampaikan dua subjudul yang merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Dua subjudul di bawah ini berkaitan dengan kiat-kiat hidup selama studi di Jepang dan mencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan. Kiat-kiat hidup Biaya hidup, mungkin bagian yang paling menjadi pertanyaan bagi calon mahasiswa Indonesia di Jepang. Untuk lulusan SMA yang ingin mengambil program S1 di Jepang, beasiswa dari Indonesia tak begitu banyak seperti dari Monbusho maupun perusahaan Jepang walau sangat terbatas. Untuk program S2 dan S3, kondisinya sama saja, hanya ada kemungkinan mendapatkan sponsor yang diusahakan oleh Professor pembimbing.

Namun bila Anda beruntung memiliki cukup uang sebagai modal awal serta “keberanian”, rasanya peluang untuk merasakan pendidikan tinggi di Jepang bukan hal mustahil. Penulis menyaksikan, ribuan mahasiswa Cina hanya dengan modal itu, setiap tahun membanjiri universitas-universitas di Jepang. Modal awal ini diperlukan untuk biaya hidup di tahun awal. Selanjutnya, kita dapat berkompetisi mendapatkan beasiswa dari perusahaan Jepang yang sangat banyak namun hanya dapat didaftar ketika sudah di Jepang. Beasiswa itu bermacam-macam, ada yang spesifik untuk bidang tertentu misalnya untuk mahasiswa jurusan Kimia karena dari perusahaan penghasil alat laboratorium kimia ataupun untuk mahasiswa asing dari negara tertentu karena perusahaan itu memiliki cabang di negara tersebut.

Menurut pengamatan penulis ketika menjadi Ketua Bidang Ilmiah-Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang, dari segi prestasi, mahasiswa Indonesia tidak kalah dari mahasiswa asing lainnya, selain itu karena jumlahnya relatif masih sedikit, peluang mendapatkan beasiswa semacam ini cukup besar. Bila biaya hidup besarnya diperkirakan kurang lebih 80 ribu yen per-bulan, maka minimal modal yang dipersiapkan cukup untuk 1-2 tahun plus biaya sekolah. Masih terasa besar bagi kebanyakan rakyat Indonesia, tapi bila dihitung dari hasil yang kelak diperoleh selepas studi, misal kesempatan kerja di Jepang (lulusan S1, minimal mengantongi gaji 150 ribu yen/bulan masih ditambah bonus), jumlah ini bukan menakutkan bila dibarengi oleh “keberanian” dan tentu saja usaha keras. Tidak seperti di Jerman misalnya, biaya sekolah di Jepang bukan gratis. Ada SPP per-semester, selain juga “uang masuk” untuk program S1 maupun S2 yang digabung dengan S3 (artinya kalau melanjutkan ke S3 dari S2 di Universitas yang sama, tidak perlu membayar lagi).

Akan tetapi, bagi mahasiswa berprestasi dengan kondisi keuangan tak mencukupi, bagi universitas negeri, terbuka peluang besar mendapatkan keringanan SPP sebesar 50% atau 100%. Bagi universitas swasta, ada juga keringanan tapi tak sebesar itu. Untuk menutupi biaya hidup ini, Pemerintah Jepang juga memperbolehkan mahasiswa asing bekerja sambilan dalam waktu yang ditentukan. Pekerjaan-pekerjaan yang sering digolongkan “kasar” oleh orang Jepang seperti mencuci piring di restoran, mengangkat barang dalam kegiatan pameran, mengatur arus lalu lintas dalam pekerjaan jalan, dan sebagainya, bisa diperoleh tanpa keterampilan khusus serta kemampuan bahasa. Pekerjaan seperti ini hampir tersedia di seluruh wilayah Jepang.

Sementara itu, bila ada kemampuan khusus seperti pemrograman komputer, kemahiran bahasa Jepang untuk menjadi penerjemah, gaji pun akan meningkat tajam walaupun kadang lowongan kerja seperti ini hanya tersedia di kota-kota besar. Akan tetapi intinya, kalau kita bersedia kerja keras dan bersimbah berkeringat, masalah dana bukan hal besar yang bisa menghambat tekad belajar itu. Selain masalah dana, adaptasi terhadap kehidupan Jepang tak jarang menjadi kendala kelancaran studi. Masyarakat Jepang secara umum sangat respek terhadap mahasiswa asing baik dalam kebudayaan maupun kepercayaan yang dibawanya.

Dengan menjelaskan bahwa sebagai Muslim, kita tidak meminum alkohol atau memakan makanan haram, penulis sering menemukan Professor maupun Universitas bersedia menyediakan menu sendiri dalam pertemuan umum yang lazim menghidangkan makanan seperti itu. Bahkan tak jarang, kita diingatkan akan kepercayaan kita sendiri seperti mematuhi larangan agama, ibadah dan sebagainya. Akan tetapi, kita dituntut pula untuk mengikuti tata tertib masyarakat Jepang. Seperti pepatah Indonesia, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, masyarakat Jepang memiliki peribahasa yang serupa. Tata tertib seperti tepat waktu, menjaga kebersihan, kedisiplinan serta kejujuran itu justru akan membawa kebaikan kepada mahasiswa Indonesia sendiri nantinya. Tak kalah penting, adalah menjaga silaturahim dengan sesama orang Indonesia. Sudah menjadi sunatan takdir, orang asing di perantauan menjadi kesepian dan ingin teman sebangsa untuk membagi keluh-kesah, pahit-getir pengalaman keseharian. Keberadaan pertemuan komunitas orang Indonesia di Jepang sudah sangat banyak, juga pertemuan internet melalui mailing list.

Hal itu bila dimanfaatkan akan dapat menghilangkan stress dan proses adaptasi. Mencari kerja Setelah sukses menyelesaikan studi, tahapan mencari kerja menjadi penting bagi seorang mahasiswa. Seperti disinggung di bagian pertama, peluang kerja di Indonesia, sangat terbuka. Kemampuan bahasa, pengalaman hidup berinteraksi dengan masyarakat Jepang serta bekal akademis dan ketrampilan pada bidangnya, akan menjadi bekal besar yang bermanfaat. Sementara itu, mencari pekerjaan di Jepang sendiri bukanlah hal yang terlalu sulit.

Faktor ikatan yang kuat antara Professor pembimbing dan mahasiswanya, sangat membantu dalam usaha mencari kerja. Sudah menjadi kebiasaan, rekomendasi Professor sangat berpengaruh dalam mencari kerja di perusahaan. Biasanya, setahun sebelum lulus, mahasiswa di Universitas Jepang sudah mulai mencari kerja. Aktivitas ini didukung penuh oleh Universitas yang ikut mencarikan lowongan serta Professor pembimbing dengan memberikan rekomendasi dan lain-lain. Sehingga begitu selesai di bulan Maret, April bulan berikutnya rata-rata mahasiswa sudah memiliki tempat bekerja. Mungkin agak unik kondisi di perusahaan Jepang, bila Anda berniat bekerja di perusahaan swasta, pendidikan S1 maupun S2 sudah cukup, tak perlu sampai S3.

Bila Anda mahasiswa S3, maka pekerjaan-pekerjaan yang bersifat spesifik sesuai dengan keahlian, menanti Anda baik di lembaga penelitian swasta, pemerintah, universitas dan sebagainya. Walaupun lowongan untuk perusahaan swasta relatif kecil dibanding jenjang akademik yang lebih rendah, tapi di universitas atau lembaga penelitian pemerintah, peluang cukup besar. Biasanya pekerjaan sebagai peneliti ini bersifat kontrak namun dapat diperpanjang atau menjadi pijakan untuk meraih posisi staf permanen. Mengantisipasi kurangnya lowongan di swasta untuk lulusan S3, Pemerintah Jepang sempat mengeluarkan proyek 10 ribu postdoc, atau tenaga peneliti kontrak di lembaga pemerintah. Kebanyakan untuk orang asing, lowongan ini diisi oleh orang Cina atau Korea Selatan, sehingga peluang orang Indonesia sebenarnya tidak kecil, tergantung kemampuan juga.

Pada akhirnya, apa yang diutarakan pada dua tulisan ini adalah beberapa informasi yang mudah-mudahan dapat menghilangkan “keangkeran” Jepang sebagai negara pilihan pendidikan luar negeri. Hal-hal yang bersifat administratif seperti mendapatkan visa dan sebagainya dapat diperoleh dari Kedutaan Besar Jepang. Tak disangkal, akan banyak tantangan dan halangan ketika kita dihadapkan langsung dengan permasalahan keseharian. Dengan optimisme, usaha keras dan doa kepada Yang Maha Kuasa, kesuksesan akan menanti Anda. Semoga bermanfaat. Dr. Arief B. Witarto, Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI, alumni Tokyo University of Agriculture and Technology, serta mantan peneliti Japan Advanced Institute of Science and Technology.

Sumber: BeritaIptek

Juli 19, 2008 - Posted by | BEASISWA, luar negeri

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: