Info Beasiswa S1 S2 S3

Beasiswa Scholarships Dalam Negeri Luar Negri

Kisah Beasiswa

Dua Srikandi Inspirator: Ibu Guru BP dan Moderator Dunia Maya

Episode Ibunda guru Amiroh

Aku berasal dari pulau Kalimantan,
yang SD nya saja sekarang telah rata dengan tanah. Namun aku punya
mimpi ingin sekolah setinggi-tingginya! Aku menggenggam bara asa walau
duka lara silih berganti menyapa. Alasan yang sangat klasik tapi nyata,
kemiskinan membelitku seperti remukan ular kobra! Kepapaan dan tanggung
jawabku sebagai anak pertama juga pernah membuatku berhenti ingin
menaklukkan dunia!

Tertatih-tatih
aku lawan kejamnya dunia kapitalis. Aku pastikan diri, kemiskinan tidak
akan membuatku berhenti sekolah. Meski Abah menentang dan memintaku
pulang. Saat itu aku duduk di bangku kelas tiga tsanawiyah di jantung
Jogja. Sepucuk surat jatuh ke pangkuanku,

“Nak,
pulanglah…! lulus tsanawiyah sudah cukup untukmu. Saat ini.
kebangkrutan mendera Abah, menghabiskan segalanya, seperti kobaran api
yang membakar rumput kering di musim kemarau. Abah sudah tidak punya
apa-apa lagi. Bahkan video tua barang peninggalan dari Saudi sudah
dijual untuk mengganjal perut. Alangkah egois jika kamu memilih
bertahan di Jogja, sementara ading-adingmu di rumah membanting tulang membantu orang tua. Kalau kamu di sana
Abah tidak tahu kamu bisa makan atau tidak, tapi kalau kamu di sini,
makan tidak makan, kita hidup bersama.” Intinya, Abah menginginkanku
pulang ke Banjarmasin. Berkumpul dengan keluarga berbagi derita miskin bersama-sama.

Waktu itu darah mudaku menggelegak. Aku memilih bertahan. Mengabaikan permintaan Abah. Walau aku belum tahu, kepada siapa aku bisa minta tolong?

Ketika
aku menghadap ibu guru BP yang sholihah, Ibu Amiroh, pertahananku
jebol. Aku tersedu-sedu di sudut ruang BP, menangis di pangkuan beliau
atas pahitnya kefakiran yang ingin merenggutku dari bangku sekolah.
Sampai kemudian beliau menjanjikan sesuatu,

“Nak,
kalau kamu berhasil meraih ranking 1 paralel (nilai tertinggi di antara
peraih juara 1 dari kelas 1 tsanawiyah s/d kelas 3 Aliyah), ibu akan
usahakan agar kamu diberi beasiswa bebas SPP
tahun ajaran selanjutnya. Walau saat ini kamu baru berhasil meraih
rangking 3 dan 2 di semester-semester sebelumnya, ibu yakin kamu bisa!”
Sambil mengucapkan kata-kata penyemangat itu, beliau menatap mataku
lekat!

Masih
kuingat, saat itu aku langsung menggenggam tangan beliau kuat-kuat.
Seakan-akan aku tegaskan pada beliau, kemiskinan ini tidak akan
membuatku berhenti! Kemiskinan ini malah akan menjadi bara abadi, bahwa
aku bisa ‘mengalahkan’nya dengan pendidikan setinggi-tingginya!

Sejak
itu, siang malam aku belajar seperti orang gila. Aku ‘kesetanan’ ingin
membuktikan kalau aku juga bisa menjadi juara 1 paralel! Meski dalam
sejarah pesantrenku selama belasan tahun, belum pernah ada juara 1
paralel dari pulau Kalimantan.

Akhir
tahun ajaran tiba. Setelah sekian pengumuman dibacakan, tiba-tiba
namaku dipanggil ke atas panggung di acara anugerah juara-juara kelas
yang disaksikan oleh ribuan santri dari seluruh penjuru tanah air. Saat
itu kakiku seperti tidak menapak tanah,

“Ananda
Fatimah binti Chairi, dari kelas III B meraih juara 1 kelas IIIB daaan…
Juara 1 Paralel. Kepada Ananda, kami persilahkan ke depan menerima
penghargaan!” Suara bariton Pak Rusydi hampir-hampir tenggelam oleh
sorak sorai teman-teman dari daerah Kalimantan.
Semua mengelu-elukan aku. Mataku pun basah. Beliau berhasil
menghidupkan kembali harapanku sekaligus menyelamatkanku dari putus
sekolah.
Belakangan
aku baru tahu, bahwa beliaulah yang mengusulkan pembebasan SPP selama
satu tahun penuh untukku di hadapan sidang dewan guru dan pembina
Madrasah. Beliau ternyata tidak hanya menyemangati saja, tapi
sungguh-sungguh membela masa depanku.
***
Episode Teh Merlyna Lim
Setiap
tahun aku tepati janji pada motivatorku, Ibu guru Amiroh. Aku nikmati
masa-masa sekolah berasrama penuh prestasi, bahkan aku menjadi ketua
OSIS.. Biarpun kemiskinan belum menjauh, Ibu Amiroh telah membukakan
pintu untukku: Berprestasi dalam pendidikan adalah senjata ampuh
melawan cengkeraman kemiskinan!

Lulus
dari Madr. Mu’allimaat, aku bulat hati melanjutkan ke bangku kuliah,
walau tanpa dukungan finansial memadai dari orang tua. Tersendat-sendat
kujalani kuliah.

Di
saat temanku menikmati kiriman bulanan dari orang tua mereka, aku
berjibaku. Mulai menjadi guru TK sampai berdagang kue dan batik
kulakoni asal halal.

Sampai
pada sebuah titik, aku kehabisan energi! Aku bahkan terdesak ‘mengemis’
belas kasihan temanku karena waktu itu aku kelaparan dan sudah dua hari
tidak makan.

Pada
sahabatku aku mengeluh, “Rasanya belitan kemiskinan ini menakdirkanku
untuk tidak berhasil meraih gelar sarjana. Aku seperti pungguk
merindukan bulan!”

Aku
mengalami musibah dan kekecewaan beruntun di tahun 2000. Aku
mempertanyakan keadilan Tuhan. Aku lelah dan ingin menyerah. Kalah.
Pulang ke Banjarmasin meski tidak membawa gelar sarjana adalah pilihan paling realistis saat itu. Apalagi banyak lulusan sarjana disekitarku malah nganggur!

Hingga suatu ketika, aku temukan tulisan-tulisan moderator yang menggawangi milis Beasiswa
yang ‘menampar’ jiwaku! Seri tulisannya singkat tapi menyentuh
relung-relung kesadaran. Mengingatkan janjiku pada Ibunda guru Amiroh:
kemiskinan harus dilawan dengan prestasi! Membangunkanku kembali pada
mimpi terbesarku. Meraih pendidikan setinggi-tingginya, sebagai salah
satu kunci menghentikan kemiskinan yang menderaku.

Di milis teh
Merlyna membagikan ilmunya yang sangat berharga. Tips dan triks dalam
melamar beasiswa sekaligus memenangkannya. Ribuan jam kuhabiskan
mengubek-ubek isi milis, ketika aku baru selesai Kuliah Kerja Nyata di Gunung Kidul.

Nama
Merlyna Lim sangat tersohor di dunia maya karena ia salah satu
moderator milis yang cepat tanggap atas pertanyaan dan kesulitan
membernya. Hebatnya lagi, itu semua dilakukannya ditengah-tengah jam
kuliah dan penelitiannya yang padat antara Belanda, Hawaii dan Bandung!

Dari milis, aku beranjak mencari tahu tentang dirinya dengan meng-google namanya. Ratusan link muncul menunjukkan siapa dirinya. Luar biasa, Teh Merlyna adalah achiever
sejati! Dia telah meraih aneka penghargaan nasional dan internasional
dan saat itu dia sedang menempuh program Doktoral di Twente University,
Belanda dengan beasiswa internasional yang sangat prestisius. Academic papernya juga telah dipresentasikan di puluhan negara. Aku terbius!

Semenjak
itu boleh dibilang aku terobsesi sekaligus ‘iri’ padanya. Jika dia bisa
menempuh pendidikan setinggi itu gratis dengan beasiswa, kenapa aku
tidak bisa? Kehebatannya di bidang akademik juga menyuntikkan bara: aku
harus selesaikan pendidikan S1 ku, sesulit dan seberat apapun tantangan
yang kuhadapi. Aku tidak akan bisa mendapatkan beasiswa S2 kalau aku
belum menyelesaikan S1 ku!

Terminal Leuwi Panjang, Bandung
Hari
itu aku berjanji untuk bertemu dengan Merlyna Lim! Setelah sekian lama
aku hanyalah muridnya di dunia maya. Di email kuceritakan, aku
mengagumi prestasinya yang mendunia di websitenya:
http://www.merlyna.org/bio. Aku ingin menyedot langsung energi positif
darinya.
Jelang
keberangkatannya kembali ke Belanda, disela-sela kesibukannya mengurus
penelitian doktoralnya, dia sisihkan waktu untukku, yang bukan
siapa-siapa.

Sekitar setengah jam aku menunggu seperti anak ayam yang hilang karena gak tau Bandung. Akhirnya dari jauh kulihat seorang perempuan keluar dari mobil merah. Putih, cantik, menarik, sederhana dan ramah!

Sambil bersalaman, teteh menarik tanganku, “Ayo Ima, langsung naik mobil, kita cari café yang enak.” Aku tidak tahu mau dibawa kemana, tapi yang pasti, aku langsung menyukainya!

Kami tiba di café Atmosphere yang
nyaman sekali. Pemandangan yang terhampar disekeliling bukan main
indahnya. Angin Bandung sepoi-sepoi perlahan mengeringkan keringatku.

Gemetar kubuka obrolan sambil menyalakan tape recorder pinjaman. Dia bercerita tentang keluarganya, hobbynya,
kenangan masa kecilnya yang lucu dan penuh semangat. ITB dan paduan
suara kampusnya, penelitian-penelitiannya dan cintanya pada ilmu
pengetahuan. Juga kisah travelingnya yang seru! Meski sudah membaca blog travelingnya, http://merlynatravel.blogspot.com, tetap saja mendengarkan langsung itu asik! Dia bahkan membawakan foto backpackingnya keliling dunia, yang sudah menjangkau hampir 30 negara lebih!

Dia salah satu perempuan cerdas tapi tidak sombong yang pernah kukenal. Dia pompakan jutaan gigabyte semangat untukku! Mulai siang itu, dia ‘kudaulat’ menjadi inspiratorku, selain Ibunda guru Amiroh!

Dia
balik bertanya. Dia ingin tahu hidupku. Malu-malu kuceritakan siapa aku
dan mimpi-mimpiku yang tertatih-tatih kuraih. Dia besarkan hatiku,
“Coba terus, Dik, kamu tidak akan pernah tahu batas kemampuanmu kalau
kamu sendiri tidak mencobanya, kita moderator di milis Beasiswa, siap membantu.”

Dia Mengajariku Membagi Ilmu
Dia
membuktikannya! Ketika berulang kali aku mengontak dia untuk urusan
applikasi beasiswa S2 ku ke berbagai lembaga, berulang-ulang juga
emailnya datang memberikan masukan-masukan yang sangat berharga. Bahkan
ketika dia sedang sibuk dan di ujung dunia paling jauh sekalipun!

Di
penghujung tahun 2003, aku mendapatkan kepastian: memperoleh beasiswa
S2 ke Inggris dari Ford Foundation. Pendidikan tak hanya memerdekakanku
dari kemiskinan harta dan ilmu, tapi juga mengantarkanku ke berbagai
negara, seperti inspiratorku!

Dia
mengajariku satu hal yang sangat penting, kita tidak akan pernah
kekurangan sekali pun kita membagi yang kita punyai. Sebaliknya kita
malah akan semakin kaya karena memberi. Seperti pesan Nabi Mulia, “Al Yadul ‘ulya khairun minal yadis sufla.” Tangan di atas (jauh lebih) mulia dibanding tangan yang di bawah.”
***

Mei 27, 2008 - Posted by | BEASISWA, beasiswa s1, beasiswa s2, beasiswa s3

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: