Info Beasiswa S1 S2 S3

Beasiswa Scholarships Dalam Negeri Luar Negri

Studi & Beasiswa di Korea Selatan

Menimba Ilmu di Korea Selatan

Dear all,

Berhubung sempat ada “uneg2″ dari moderator soal minimnya bahasan
tentang beasiswa di Korea Selatan, saya mau berbagi pengalaman saya
sekolah dan bekerja di sana. Selama 2 tahun kuliah master of science,
dan 2 tahun bekerja sebagai visiting researcher. Bisa disimpulkan,
bahwa selama 4 tahun saya tinggal di Korsel, walaupun banyak duka
tetapi sukanya lebih banyak lagi. Saya puas selama menimba pengalaman
di Korsel.

Kenapa?
1). Korsel adalah negara yg rakyatnya punya karakteristik ingin maju
dan tidak ingin kalah dari yang lain. Mereka saling bersaing berlomba2
bekerja lebih keras daripada yang lain. Dalam bahasa Korea ada sebuah
kata yang kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi “envy”. Tetapi
kata “iri” ini bermakna positif, bukan negatif. Yaitu, orang yg envy
ini akan berusaha sebisanya untuk seperti yang lain. Istilahnya,
“kalau dia bisa, kenapa saya tidak?”. Jadi, iklim kompetisi ini yang
mendidik saya menjadi orang yg berusaha selalu ingin maju.

Sifat yang inilah yang membuat Korsel menjadi negara maju. Karena
mereka tidak mau kalah dengan negara lain. Dalam bidang science dan
technology, mereka cukup maju di dunia. Dana riset besar-besaran
dikucurkan di mana-mana. Mereka yang mengerjakan riset ini, diharuskan
menunjukkan bukti sudah terpublikasinya karya ilmiah mereka di
penerbitan internasional sehingga cukup dikenal oleh negara-negara
lain.

2). Rakyat Korea punya sifat lain yaitu “hurry hurry” atau “cepat
cepat” atau terburu-buru. Walaupun di banyak hal membuat suatu
pekerjaan jadi dikerjakan tergesa-gesa, sifat ini membuat segalanya
bisa cepat diselesaikan. Public service di Korsel cukup bagus,
segalanya bisa diselesaikan dengan cepat. Pengalaman di kantor
imigrasi, membuat KTP, urusan bank, mengurus tax return, memesan
barang untuk keperluan riset, sampai urusan membuat nomer hp bisa
cepat diselesaikan. Saya pribadi jadi punya pendapat “di Korea apa sih
yg gak bisa selesai dalam semalam?” Dan berpengaruh pada cara kerja
saya yg bisa cepat selesai kalau ada komando mendadak atau emergency.

3). Sifat lain rakyat Korea adalah “polos” atau “tidak pakai
prasangka” ketika mereka mempelajari tentang orang asing. Memang pada
dasarnya mereka punya identitas bangsa yang kuat sehingga merasa aneh
jika bertemu orang asing, karena adanya perbedaan warna kulit, bentuk
badan (misalnya orang Korsel banyak yg langsing sehingga heran melihat
orang yg super gemuk), rambut, mata, dll. Semua perbedaan yang
terdapat pada diri orang asing, sangat terlihat di mata mereka. Tetapi
hal ini diikuti dengan sikap tanpa prasangka mereka.

Contohnya kalau beberapa orang barat terpengaruh media yg menggembar
gemborkan Islam dan teroris, sehingga jilbab ikut disangkut pautkan,
hal ini tidak terjadi pada orang Korsel. Mereka melihat orang Islam
sebagai “just another culture” maupun jilbab sebagai “ahh itu kan cuma
baju kebudayaan mereka saja.” Jadi, jika orang Korsel bertemu orang2
dari negeri lain, pada awalnya memang mereka akan terheran2 dan
menanyakan berbagai macam pertanyaan yg sungguh “polos”, karena mereka
tidak biasa hidup bersama orang yg sangat berbeda (lain halnya dengan
di Indonesia misalnya, di mana dalam negeri kita sendiri sudah
berbeda-beda sekali suku2 dan budaya2nya).

4). Korsel adalah negeri yg aman. Selain karena tingkat ekonomi yg
baik (termasuk salah satu dari 30 negara anggota OECD – lihat
oecd.org), rakyat Korsel seperti punya “kacamata kuda”. Keburukannya
mungkin kalau ada orang di sekitarnya kenapa-kenapa, dia tidak tahu
atau tidak bisa membantu. Tapi kebaikannya, mereka seakan-akan punya
kepribadian “tidak suka mengusik milik orang lain.” Pengalaman saya
pribadi, belum pernah saya kecurian, kecopetan, kerampokan, atau
melihat/mendengar cerita orang lain mengalami hal-hal itu (bisa jadi
saya kuper kurang baca koran), mau segimana nyantainya saya letakkan
barang2 saya. Pengalaman saya adalah jam 12 malam di stasiun subway
sendiri mengejar kereta nyaris terakhir, tidak ada gangguan apa2. Dini
hari (jam 2 – 4) pulang dari lab menuju asrama yg terletak di luar
pagar kampus, tidak apa2. Lewat tengah malam pulang dari luar kota di
terminal bus lalu sambung naik taksi, juga tidak apa2. Oke lah bisa
jadi saya beruntung, tapi bisa ditanyakan kepada orang2 Korsel sendiri
dan teman2 yg pernah tinggal di sana.

5). Beasiswa untuk bidang science dan technology cukup banyak. Hal ini
terkait dengan point nomor 1 di mana dana riset dikucurkan
besar-besaran di mana2. Karena besarnya dana riset, maka kebanyakan
mereka membutuhkan mahasiswa S2 dan S3. S2nya pun rata2 mengandung
komponen riset yang besar. Beasiswanya diberikan dengan sistem
menggaji mahasiswa, karena semua mahasiswa wajib bekerja di lab
full-time. Kenapa full-time? Karena yg kita kerjakan pasti melebihi
jam kerja “normal” (9 pagi sampai 6 sore), yg disebabkan oleh pergi
kuliah plus mengerjakan tugas2 kuliah tapi masih juga kerja di lab
membantu riset professor.

Jadi, bagi teman2 yg di bidang teknik atau sains, banyak lowongan
beasiswa di Korsel. Misalnya IT, Biologi, Fisika, Kimia, Teknik
Elektro, Mesin, dll. Korsel lagi jadi negara dgn perkembangan industri
high-tech yg pesat. Jadi, buat yg mau mendalami ilmu2 yg “baru”
seperti bioteknologi, nanoteknologi, dan IT/robotics, banyak proyek
dan dana beasiswanya.

Lalu bagaimana dengan saya sendiri? Apa yg saya dapatkan dari
pengalaman hidup di Korsel?
1) Saya jadi orang yg giat bekerja, dan kebiasaan buruk saya
procrastination (menunda2 pekerjaan) jadi berkurang, krn di Korsel
saya harus sigap terhadap kerjaan2 yg ada karena begitu cepatnya semua
berjalan.
2) Saya jadi orang yg melihat banyak hal lebih simple dan polos,
karena begitu simplenya sistem publik di Korsel. Semua sudah digital,
rakyat dipercaya untuk mengerjakan apa2 sendiri (karena mereka juga
sangat taat peraturan), sehingga segala proses berlangsung dengan
mudah (tentunya jadi cepat selesai). Peraturan2 umum di Korsel tidak
jelimet dan tidak aneh2 mengandung berbagai macam klausa dan pasal.
Yang saya hadapi sebagai foreigner yg tinggal di Korsel, cukup mudah
dipahami. Kalau ada yg tidak paham ya karena kendala bahasa, yg
biasanya beres dengan dibantu oleh native speaker.
3). Saya jadi punya pengalaman riset di bidang2 high-tech walaupun
kualitas risetnya tidak sehebat amerika atau eropa (krn orang Korsel
masih kurang pengalaman — mereka baru mulai bangkit tahun 1960-an).
Karena di Korsel banyak di-encourage publish paper (mahasiswa master
wajib punya minimal 1 paper conference dan mahasiswa phd wajib punya
minimal 1 paper journal dgn level tertentu), maka saya punya banyak
pengalaman di sini juga. Pengalaman2 inilah yg membuat saya punya
nilai tambah utk dapat beasiswa di Eropa.

Kalau negatifnya?
1) Sama seperti budaya Asia pada umumnya, di Korsel ada senioritas (yg
lebih tua lebih dihormati), tapi memang dengan kadar yg lebih tinggi
daripada negeri kita. Baik-baiklah memilih profesor, yg lebih bisa
menerima pendapat anak muda dibanding hanya mau pendapatnya saja yg
dituruti.
2) Tidak semua kampus Korsel siap menerima mahasiswa asing. Tidak
semua kampus Korsel bisa memberikan kuliah fully in english. Kalau
kuliah di kampus seperti ini, maka jadinya kuliah terlalu sedikit dan
banyak belajar sendiri karena ketidaktersediaan kelas dlm bhs inggris.
Sebaiknya mendaftar ke kampus yg sudah terkenal atau banyak mahasiswa
asing, atau dari kampus yg website versi englishnya cukup
bagus/informatif.
3) Pastikan beasiswa mencukupi biaya hidup dan minta kejelasan asal
beasiswa (misal dari pemerintah, atau dari kampus, dll) hitam di atas
putih. Tapi biasanya dengan kampus2 yg sudah biasa mengurus mahasiswa
asing tidak ada masalah dengan prosedur seperti ini.

Tulisan di atas banyak dilihat dari kasus dalam bidang saya
(sains/teknologi), sehingga agak berbeda kasusnya utk bidang2 sosial.
Sekian dulu sedikit cerita saya, semoga gak kepanjangan. Buat
teman-teman yg di Korsel, silakan tambahkan info. Buat yg mau tanya
lebih lanjut, bisa japri lewat email. Bisa juga kontak bapak-bapak di link:
http://www.perpika.net/profil-anggota karena mereka tinggal lebih lama
di Korsel dibanding saya.

salam,
-Qonita

About these ads

Juni 5, 2008 - Posted by | BEASISWA, beasiswa s1, beasiswa s2, beasiswa s3, luar negeri

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 115 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: